Al-Baqarah Ayat 91: Terjemah dan Tafsirnya

TAFSIR SURAH AL-BAQARAH 91

Banyak orang mengaku mengikuti kebenaran, tetapi tidak semua siap menerima seluruh ajarannya. Surah Al-Baqarah ayat 91 mengungkap kenyataan tersebut melalui kisah Bani Israil. Mereka menerima wahyu yang sesuai dengan keyakinan mereka, tetapi menolak wahyu yang datang setelahnya. Sikap itu menunjukkan bahwa kesombongan sering mengalahkan kejujuran dalam mencari kebenaran.

Kisah ini tidak hanya berbicara tentang umat terdahulu. Kita juga dapat terjebak dalam kesalahan yang sama tanpa menyadarinya. Seseorang mudah menerima nasihat yang menguntungkan dirinya. Namun, ia sering menolak nasihat yang menegur kesalahan atau mengubah kebiasaannya. Karena itu, ayat ini mengajak setiap muslim menundukkan hati kepada seluruh petunjuk Allah tanpa memilih sesuai selera.

Baca juga artikel Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 90

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 91

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا۟ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ نُؤْمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَآءَهُۥ وَهُوَ ٱلْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنۢبِيَآءَ ٱللَّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Wa iżā qīla lahum āminụ bimā anzalallāhu qālụ nu`minu bimā unzila ‘alainā wa yakfurụna bimā warā`ahụ wa huwal-ḥaqqu muṣaddiqal limā ma’ahum, qul fa lima taqtulụna ambiyā`allāhi ming qablu ing kuntum mu`minīn

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang haq; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (QS. Al-Baqarah: 91)

Makna Kata

{ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ } (Bimā anzalallāhu): Yang dimaksud adalah Al-Qur’an, yaitu wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai petunjuk bagi seluruh manusia.

{ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا } (Bimā unzila ‘alainā): Yang dimaksud adalah Kitab Taurat. Bani Israil mengaku hanya beriman kepada Taurat dan menolak Al-Qur’an.

{ وَهُوَ ٱلۡحَقُّ مُصَدِّقٗا } (Wa huwal-ḥaqqu muṣaddiqan): Al-Qur’an merupakan kitab yang benar dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an menegaskan ajaran pokok seluruh agama samawi, seperti tauhid, kenabian, kebangkitan setelah kematian, dan balasan di akhirat.

Tafsir

Allah mengarahkan ayat ini kepada orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab. Mereka diajak beriman kepada Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw. Namun, mereka menolak ajakan tersebut. Mereka mengaku hanya beriman kepada Taurat dan Injil. Mereka enggan menerima wahyu yang datang setelah kedua kitab itu. Penolakan itu bukan karena kurang bukti, tetapi karena hati mereka menolak kebenaran.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya,” (QS. Al-Baqarah: 91)

Padahal, Al-Qur’an membenarkan isi Taurat dan Injil yang masih asli. Al-Qur’an tidak membawa ajaran yang bertentangan dengan wahyu sebelumnya. Kitab ini justru menguatkan pokok ajaran para nabi terdahulu. Semua nabi mengajarkan tauhid, kenabian, hari kebangkitan, dan balasan akhirat. Karena itu, orang yang benar-benar beriman kepada Taurat seharusnya menerima Al-Qur’an.

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,” (QS. Ali Imran: 3)

Allah kemudian membantah pengakuan mereka dengan pertanyaan yang sangat tegas. Jika mereka benar-benar beriman kepada Taurat, mengapa nenek moyang mereka membunuh para nabi Allah?

“Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan kalian lalu kalian bersikap sombong; kemudian beberapa orang (di antara nabi itu) kalian dustakan dan beberapa nabi (yang lain) kalian bunuh?” (QS. Al-Baqarah: 87)

Padahal para nabi itu membenarkan Taurat dan mengajak mereka menaati Allah. Tindakan itu membuktikan bahwa mereka lebih mengikuti hawa nafsu daripada petunjuk Allah. Mereka menolak kebenaran ketika kebenaran tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Allah juga mengingatkan mereka tentang kisah Nabi Musa as. Beliau datang membawa banyak mukjizat yang sangat jelas. Mereka menyaksikan laut terbelah, tongkat berubah menjadi ular, serta berbagai tanda kekuasaan Allah. Mereka juga menikmati manna dan salwa sebagai rezeki dari langit. Semua bukti itu seharusnya menguatkan keimanan mereka kepada Allah.

Baca Artikel Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 40 sampai Ayat 50

Namun, setelah Nabi Musa pergi bermunajat di Bukit Thur, mereka justru menyembah patung anak sapi. Mereka meninggalkan Allah yang telah menyelamatkan mereka dari Fir’aun.

“Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah: 51)

Perbuatan itu menunjukkan betapa mudah hati manusia berpaling ketika tidak menjaga iman. Mereka melakukan kezaliman besar meskipun telah melihat banyak mukjizat.

Ayat ini mengajarkan bahwa pengakuan iman harus dibuktikan dengan ketaatan. Seseorang tidak boleh memilih ajaran yang menguntungkan dirinya saja. Seorang mukmin wajib menerima seluruh petunjuk Allah dengan hati yang tunduk. Kesombongan, fanatisme, dan hawa nafsu selalu menjadi penghalang terbesar menuju kebenaran. Karena itu, setiap muslim harus terus menjaga keikhlasan agar selalu siap menerima kebenaran dari mana pun datangnya.

Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 91

Berikut ini hikmah-hikmah kehidupan dari Surah Al-Baqarah ayat 91 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan:

  1. Terimalah seluruh ajaran Allah tanpa memilih-milih. Keimanan yang benar menerima semua wahyu Allah, bukan hanya ajaran yang sesuai dengan keinginan pribadi.
  2. Jangan biarkan kesombongan menutup hati dari kebenaran. Kesombongan membuat seseorang menolak kebenaran meskipun bukti sudah jelas di hadapannya.
  3. Buktikan iman dengan ketaatan, bukan sekadar pengakuan. Ucapan beriman harus terlihat dalam sikap, keputusan, dan ketaatan kepada perintah Allah.
  4. Kendalikan hawa nafsu saat mencari kebenaran. Hawa nafsu sering mendorong manusia menerima yang menguntungkan dan menolak yang memberatkan.
  5. Jagalah hati agar tetap istiqamah setelah menerima hidayah. Banyaknya ilmu dan bukti tidak akan bermanfaat jika hati tidak terus dijaga dengan keikhlasan dan ketakwaan.

Penutup

Surah Al-Baqarah ayat 91 mengingatkan bahwa kebenaran menuntut ketundukan, bukan sekadar pengakuan. Allah menguji keimanan melalui kesediaan menerima seluruh petunjuk-Nya. Hati yang ikhlas akan lebih mudah menerima nasihat dan memperbaiki diri.

Semoga Allah menjaga hati kita dari kesombongan, fanatisme, dan hawa nafsu. Mari menerima setiap kebenaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah. Semoga Allah meneguhkan langkah kita hingga akhir hayat dalam keimanan dan ketakwaan.

Share it:

Tags

El Nino

Pengajar pesantren tinggal di Kediri. Dilahirkan di dunia pada 17 Desember 1991. Riwayat pendidikan sudah 17 tahun hidup di pesantren menjadi santri dan pengurus. Tujuan mendirikan web mengajiislam.com untuk menjadi sarana berbagi ilmu yang telah saya pelajari di pondok dan menambah seduluran.

Related Post

Tinggalkan komentar