Surah Al-Baqarah ayat 87 mengajak kita merenungkan sikap manusia saat menerima kebenaran. Bani Israil telah mendapat banyak nikmat dari Allah melalui Nabi Musa, kitab Taurat, dan berbagai mukjizat yang luar biasa. Namun, semua bukti itu tidak selalu melahirkan ketaatan. Mereka justru sering membangkang ketika perintah Allah bertentangan dengan keinginan mereka sendiri.
Fenomena ini ternyata masih mudah ditemukan pada kehidupan sekarang. Banyak orang mengetahui kebenaran, tetapi enggan mengikutinya karena hawa nafsu dan kepentingan pribadi. Karena itu, Allah mengingatkan kisah Bani Israil agar menjadi pelajaran bagi setiap generasi. Setelah wafatnya Nabi Musa, Allah terus mengutus para nabi untuk membimbing mereka. Bahkan Nabi Isa datang membawa Injil dan mukjizat yang nyata. Namun, sebagian besar dari mereka tetap menolak taat dan memilih jalan yang mereka sukai.
Baca juga artikel Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 86
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 87
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى ٱلْكِتَٰبَ وَقَفَّيْنَا مِنۢ بَعْدِهِۦ بِٱلرُّسُلِ ۖ وَءَاتَيْنَا عِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ ٱلْبَيِّنَٰتِ وَأَيَّدْنَٰهُ بِرُوحِ ٱلْقُدُسِ ۗ أَفَكُلَّمَا جَآءَكُمْ رَسُولٌۢ بِمَا لَا تَهْوَىٰٓ أَنفُسُكُمُ ٱسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ
Wa laqad ātainā mụsal-kitāba wa qaffainā mim ba’dihī bir-rusuli wa ātainā ‘īsabna maryamal-bayyināti wa ayyadnāhu birụḥil-qudus, a fa kullamā jā`akum rasụlum bimā lā tahwā anfusukumustakbartum, fa farīqang każżabtum wa farīqan taqtulụn
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (QS. Al-Baqarah: 87)
Makna Kata
{ مُوسَى } Musa : Nabi Musa as bin Imran, seorang nabi mulia yang Allah utus kepada Bani Israil untuk membimbing mereka menuju jalan yang benar.
{ ٱلۡكِتَٰبَ } al-Kitab : Taurat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi Bani Israil.
{ قَفَّيۡنَا } qaffainaa : Kami mengutus para rasul secara berurutan setelah Nabi Musa as. Setiap rasul melanjutkan dakwah rasul sebelumnya.
{ الرسل } ar-Rusul : Bentuk jamak dari rasul, yaitu manusia pilihan yang menerima wahyu dari Allah dan diperintahkan menyampaikannya kepada umatnya.
{ ٱلۡبَيِّنَٰتِ } al-Bayyinaat : Berbagai bukti yang jelas tentang kebenaran Nabi Isa as, berupa mukjizat dan ajaran yang terkandung dalam Injil.
{ رُوحِ ٱلۡقُدُسِ } Ruuhul Qudus : Malaikat Jibril ‘alaihissalam yang Allah tugaskan untuk membantu, menguatkan, dan mendampingi Nabi Isa as dalam menjalankan risalahnya.
Tafsir
Surah Al-Baqarah ayat 87 menjelaskan besarnya nikmat Allah kepada Bani Israil. Allah memberikan Taurat kepada Nabi Musa sebagai petunjuk hidup yang jelas. Namun, mereka tidak menjaga amanah tersebut dengan baik. Sebagian dari mereka mengubah isi kitab, melanggar hukum Allah, dan lebih memilih mengikuti hawa nafsu.
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya.”. (QS. An-Nisa: 46)
Padahal Allah terus menunjukkan kasih sayang-Nya dengan mengutus para nabi secara berurutan untuk mengingatkan dan membimbing mereka.
Setelah Nabi Musa wafat, Allah mengutus banyak rasul dari kalangan Bani Israil. Para nabi itu mengajak manusia kembali kepada ajaran Taurat yang benar. Mereka menegakkan hukum Allah dan memperingatkan umat dari kesesatan. Akan tetapi, banyak orang tetap menolak nasihat para nabi. Mereka hanya menerima ajaran yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri.
Puncak nikmat itu terlihat ketika Allah mengutus Nabi Isa bin Maryam. Beliau datang membawa Injil dan berbagai mukjizat yang nyata. Dengan izin Allah, beliau menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit, dan memberitakan perkara gaib. Allah juga menguatkan beliau dengan Ruhul Qudus, yaitu Malaikat Jibril. Semua bukti itu menunjukkan kebenaran risalah yang beliau bawa.
Meski demikian, Bani Israil tetap membangkang. Mereka merasa terganggu ketika ajaran para nabi bertentangan dengan kepentingan mereka. Kesombongan membuat mereka menolak kebenaran yang sebenarnya sudah jelas. Sebagian nabi mereka dustakan, bahkan sebagian lainnya mereka bunuh. Sikap inilah yang Allah kecam dalam ayat ini.
“Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Ma’idah: 70)
Penyebab utama penyimpangan mereka bukan karena kurangnya bukti. Mereka memiliki kitab, nabi, dan mukjizat yang sangat banyak. Namun, hawa nafsu menguasai hati mereka. Mereka ingin agama mengikuti keinginan mereka, bukan sebaliknya. Ketika perintah Allah terasa berat, mereka mencari alasan untuk menolaknya.
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqaarah: 85)
Fenomena ini juga mudah ditemukan pada zaman sekarang. Banyak orang mengaku mencintai agama, tetapi hanya mengambil ajaran yang menguntungkan dirinya. Mereka menerima hukum Allah dalam satu perkara, lalu menolaknya dalam perkara lain. Sebagian orang lebih percaya pendapat tokoh favorit daripada dalil yang jelas. Sebagian lainnya mencari pembenaran untuk mempertahankan kebiasaan yang salah.
Ayat ini mengingatkan bahwa kebenaran tidak boleh diukur dengan selera manusia. Ukuran kebenaran tetap wahyu yang Allah turunkan. Seorang mukmin sejati berusaha tunduk kepada ajaran Allah meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya. Karena itu, kisah Bani Israil bukan sekadar cerita masa lalu. Allah menghadirkannya sebagai cermin agar umat ini tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 87
Berikut ini hikmah-hikmah pelajaran hidup dari Surah Al-Baqarah ayat 87 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan:
- Banyaknya ilmu tidak menjamin ketaatan jika hati masih dikuasai hawa nafsu.
- Allah selalu memberi petunjuk kepada manusia melalui para nabi, ulama, dan nasihat yang baik.
- Kesombongan menjadi penghalang terbesar seseorang dalam menerima kebenaran.
- Seorang mukmin harus mengikuti dalil, bukan sekadar mengikuti keinginan pribadi.
- Kebenaran tetap benar meskipun bertentangan dengan kepentingan dan kenyamanan diri.
- Nikmat berupa ilmu dan petunjuk akan sia-sia jika tidak diamalkan dalam kehidupan.
- Jangan memilih ajaran agama sesuai selera lalu meninggalkan bagian yang terasa berat.
- Mukjizat dan bukti yang jelas tidak bermanfaat bagi hati yang keras dan membangkang.
- Umat Islam harus menjadikan kisah Bani Israil sebagai pelajaran, bukan sekadar sejarah.
- Keselamatan hidup terletak pada sikap tunduk kepada Allah, bukan pada mengikuti hawa nafsu.
Penutup
Surah Al-Baqarah ayat 87 mengingatkan bahwa petunjuk Allah merupakan nikmat yang sangat besar. Karena itu, setiap muslim harus menjaga hati agar tetap tunduk kepada kebenaran. Jangan biarkan kesombongan dan hawa nafsu menghalangi jalan menuju ridha Allah.
Kisah Bani Israil bukan sekadar catatan sejarah, tetapi cermin bagi setiap generasi. Orang yang mencintai kebenaran akan menerima nasihat meskipun terasa berat. Sebaliknya, orang yang mengikuti hawa nafsu akan terus mencari alasan untuk menolak petunjuk Allah.











Tinggalkan komentar