Setiap orang mengaku siap menerima kebenaran namun, kenyataan sering menunjukkan sikap yang berbeda ketika itu tidak sesuai harapannya. Surah Al-Baqarah ayat 89 mengungkap kenyataan itu dengan sangat jelas. Ayat ini mengajak kita menilai kejujuran hati saat kebenaran benar-benar datang. Jangan sampai kita hanya mau menerima aturan Allah yang sesuai dengan hawa nafsu kita.
Ayat ini menceritakan sebagian Bani Israil yang menanti kedatangan nabi terakhir. Mereka bahkan menyombongkan diri akan segera mendapat kemenangan melalui kabar kedatangannya. Namun, mereka justru mengingkarinya ketika Allah mengutus Nabi Muhammad saw. Penolakan itu lahir dari kesombongan, kedengkian, dan fanatisme. Kisah ini menjadi peringatan agar kita menerima kebenaran berdasarkan bukti, bukan berdasarkan kepentingan atau nafsu.
Baca juga artikel Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 88
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 89
وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا۟ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا۟ كَفَرُوا۟ بِهِۦ ۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ
Wa lammā jā`ahum kitābum min ‘indillāhi muṣaddiqul limā ma’ahum wa kānụ ming qablu yastaftiḥụna ‘alallażīna kafarụ, fa lammā jā`ahum mā ‘arafụ kafarụ bihī fa la’natullāhi ‘alal-kāfirīn
“Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS. Al-Baqarah: 89)
Makna Kata
Pada ayat ini, Allah menyebut { كِتَٰبٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ } (kitābun min ‘indillāh) yang berarti Al-Qur’an Al-Karim, yaitu kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai petunjuk bagi seluruh manusia.
Sementara itu, kata { يَسۡتَفۡتِحُونَ } (yastaftiḥūna) bermakna meminta kemenangan. Sebelum Nabi Muhammad saw diutus, sebagian Bani Israil sering memohon kepada Allah agar memenangkan mereka melalui kedatangan nabi terakhir yang telah dijanjikan.
Tafsir
Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an membenarkan Taurat yang telah dimiliki orang-orang Yahudi. Karena itu, mereka seharusnya menjadi golongan pertama yang beriman. Mereka telah mengenal ciri-ciri Nabi Muhammad saw melalui kitab mereka. Namun, mereka justru memilih mengingkari beliau.
Sebelum Rasulullah saw diutus, orang-orang Yahudi sering memohon kemenangan kepada Allah melalui kedatangan nabi akhir zaman. Mereka juga menyampaikan kabar itu kepada suku Aus dan Khazraj. Mereka bahkan menjelaskan sifat-sifat Nabi Muhammad saw kepada kaum Arab. Harapan itu berubah menjadi penolakan ketika beliau benar-benar diutus dari kalangan Arab.
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa mereka menolak Rasulullah saw bukan karena kurangnya bukti. Kesombongan, rasa dengki dan fanatisme membuat mereka mengingkari kebenaran yang telah mereka ketahui.
“Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 109)
Allah kemudian menurunkan ayat ini sebagai teguran atas sikap mereka. Ilmu tanpa kejujuran tidak akan mengantarkan seseorang kepada hidayah.
Tafsir ini mengajarkan bahwa mengenal kebenaran saja tidak cukup. Seseorang juga harus berani menerima dan mengamalkannya. Jangan biarkan nafsu, dengki, fanatisme, atau kepentingan dunia menghalangi petunjuk Allah. Sikap rendah hati akan lebih mudah menerima kebenaran dan memperoleh hidayah.
Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 89
Berikut ini hikmah-hikmah kehidupan dari Surah Al-Baqarah ayat 89 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan:
- Terimalah kebenaran meskipun tidak sesuai dengan keinginan kita. Hidayah datang kepada orang yang mengutamakan kebenaran, bukan kepentingan pribadi.
- Ilmu harus disertai kejujuran hati. Mengetahui kebenaran tidak akan bermanfaat jika kesombongan membuat kita menolaknya.
- Jauhi dengki dan fanatisme golongan. Kedua sifat ini dapat membutakan hati hingga seseorang menolak bukti yang sudah jelas.
- Jangan hanya menunggu pertolongan Allah tanpa kesiapan untuk taat. Ketika petunjuk datang, sambutlah dengan iman, bukan dengan penolakan.
- Biasakan bersikap rendah hati dalam mencari kebenaran. Kerendahan hati membuka pintu hidayah, sedangkan kesombongan hanya menjauhkan manusia dari rahmat Allah.
Penutup
Surah Al-Baqarah ayat 89 mengingatkan bahwa ujian terbesar bukan mencari kebenaran, tetapi menerimanya dengan hati yang tulus. Jangan biarkan kesombongan, dengki, atau kepentingan dunia menutup pintu hidayah yang Allah buka.
Mari jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap keputusan hidup. Terimalah kebenaran meskipun menuntut perubahan diri. Semoga Allah menjaga hati kita agar selalu tunduk kepada petunjuk-Nya dan istiqamah di jalan yang benar.











Tinggalkan komentar