Tidak sedikit orang menolak nasihat karena merasa sudah mengetahui semuanya. Sikap seperti ini juga menjadi pelajaran penting dalam surah Al-Baqarah ayat 88. Allah mengungkap alasan yang dipakai sebagian Bani Israil untuk mengabaikan kebenaran. Mereka mengaku hati mereka sudah tertutup sehingga tidak membutuhkan petunjuk lagi. Padahal, penolakan itu lahir dari kesombongan dan kekufuran, bukan karena kurangnya bukti.
Melalui ayat ini, Allah meluruskan anggapan tersebut dengan penjelasan yang sangat tegas. Hati mereka tidak tertutup secara alami, tetapi mengeras akibat kesombongan mereka sendiri. Pesan ini tetap relevan bagi setiap Muslim hingga sekarang. Jangan biarkan ego menghalangi kita menerima nasihat yang benar. Sikap rendah hati akan lebih mudah menerima hidayah dan menambah kekuatan iman.
Baca juga Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 87
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 88
وَقَالُوا۟ قُلُوبُنَا غُلْفٌۢ ۚ بَل لَّعَنَهُمُ ٱللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا مَّا يُؤْمِنُونَ
Wa qālụ qulụbunā gulf, bal la’anahumullāhu bikufrihim fa qalīlam mā yu`minụn
“Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.”
Makna Kata
{ غُلۡفُ } (ghulf) berarti hati mereka tertutup sehingga tidak mau memahami kebenaran yang disampaikan Nabi Muhammad saw. Sebagian ulama juga menafsirkan bahwa mereka merasa hati mereka sudah penuh dengan ilmu. Karena itu, mereka menganggap tidak perlu lagi belajar atau menerima petunjuk dari beliau.
Tafsir
Para ulama tafsir menjelaskan makna firman Allah, “Qulubuna ghulf,” dengan beberapa penafsiran. Ibnu Abbas menafsirkan bahwa hati mereka tertutup oleh penghalang. Mujahid menyebut hati mereka diselimuti kegelapan. Ikrimah mengatakan hati mereka telah diberi cap. Qatadah mengaitkan ayat ini dengan Surah Fushilat ayat 5, bahwa mereka mengaku tidak mampu menerima dakwah Nabi Muhammad saw. Semua penafsiran ini menunjukkan bahwa hati mereka telah tertutup dari kebenaran.
“Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)”. (QS. Al-Fussilat: 5)
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa mereka merasa hati mereka sudah penuh dengan ilmu. Karena itu, mereka menganggap tidak perlu mengikuti Nabi Muhammad saw. Ibnu Abbas menguatkan pendapat ini. Kesombongan membuat mereka lebih percaya pada ilmu sendiri daripada wahyu Allah. Sikap ini juga dijelaskan dalam Surah Ghafir ayat 83.
“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” (QS. Ghafir: 83)
Allah membantah alasan mereka dengan tegas. Hati mereka tidak tertutup tanpa sebab. Kekufuran dan kesombongan membuat mereka kehilangan hidayah. Makna ini juga tertulis tegas dalam Surah An-Nisa ayat 155. Dosa yang terus dilakukan dapat mengeraskan hati seseorang.
“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup”. Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.” (QS. An-Nisa: 155)
Sebagian ulama menjelaskan bahwa hanya sedikit Bani Israil yang benar-benar beriman. Pendapat lain menyebut keimanan mereka hanya menerima sebagian ajaran Nabi Musa as. Mereka tetap menolak risalah Nabi Muhammad saw. Keimanan seperti itu tidak membawa keselamatan.
Ayat ini mengingatkan setiap Muslim agar tidak merasa paling benar. Kesombongan dapat menutup hati dari ilmu dan nasihat. Karena itu, bukalah hati untuk menerima kebenaran yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah.
Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 88
Berikut ini hikmah-hikmah pelajaran hidup dari Surah Al-Baqarah ayat 88 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan:
- Jangan pernah merasa paling benar. Kesombongan dapat menutup hati dari ilmu, nasihat, dan hidayah Allah.
- Teruslah belajar sepanjang hayat. Orang yang rendah hati selalu membuka diri terhadap kebenaran meski datang dari siapa pun.
- Jauhi dosa yang dilakukan terus-menerus. Maksiat yang dibiarkan dapat mengeraskan hati dan menjauhkan seseorang dari petunjuk Allah.
- Ukur kebenaran dengan Al-Qur’an dan sunah. Jangan menjadikan tradisi, fanatisme, atau pendapat pribadi sebagai ukuran utama.
- Jagalah hati agar tetap bersih dan lembut. Hati yang ikhlas lebih mudah menerima nasihat, bertambah iman, dan semakin dekat kepada Allah.
Penutup
Surah Al-Baqarah ayat 88 mengajarkan bahwa kesombongan menjadi penghalang terbesar untuk menerima hidayah. Karena itu, jagalah hati agar selalu terbuka terhadap kebenaran. Terimalah nasihat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah meski terasa berat.
Semoga tafsir ayat ini mendorong kita menjadi pribadi yang rendah hati dan gemar mencari ilmu. Semoga Allah melembutkan hati kita dan menguatkan iman hingga akhir hayat. Aamiin.











Tinggalkan komentar