Banyak orang mengaku mencintai kebenaran, tetapi tidak semuanya siap mengikuti seluruh konsekuensinya. Surah Al-Baqarah ayat 86 mengingatkan bahaya memilih ajaran yang menguntungkan diri sendiri lalu mengabaikan bagian yang terasa berat. Sikap seperti ini tidak hanya terjadi pada Bani Israil. Kita juga bisa terjebak dalam kesalahan yang sama ketika hawa nafsu menjadi penentu dalam beragama.
Di zaman sekarang, sebagian orang menerima aturan agama yang sesuai keinginan mereka. Namun, mereka menolak aturan yang dianggap mengganggu kepentingan pribadi. Allah menegur sikap tersebut melalui kisah Bani Israil. Mereka mengetahui kebenaran dalam kitab mereka, tetapi tetap memilih jalan yang menguntungkan dunia. Karena itu, Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang menukar akhirat dengan kesenangan yang sementara.
Baca juga artikel Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 85
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 86
أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشْتَرَوُا۟ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا بِٱلْءَاخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ ٱلْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ
Ulā`ikallażīnasytarawul-ḥayātad-dun-yā bil-ākhirati fa lā yukhaffafu ‘an-humul-‘ażābu wa lā hum yunṣarụn
“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Baqarah: 86)
Makna Kata
{ٱشْتَرَوُا۟} (Iytarawul) Kata ini berasal dari fi’il (kata kerja) “اِشْتَرَى – يَشْتَرِيْ” yang berarti membeli. Seperti yang kita fahami bahwa membeli adalah melakukan pertukaran. Maka makna dari kata “ٱشْتَرَوُا۟” pada ayat ini adalah menukar taat kepada syariat Allah demi mendapat kesenangan dunia.
Tafsir
Sebelum Islam datang ke Madinah, kaum Yahudi sering berperang untuk membela kelompok mereka. Padahal Allah telah melarang perbuatan tersebut. Di sisi lain, mereka tetap menjalankan sebagian isi Al-Kitab yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Menjalankan syariat tidak boleh berdasarkan keinginan pribadi. Seorang mukmin harus berusaha menjalankan seluruh ajaran Allah sesuai kemampuannya.
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia merupakan musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)
“Apa yang aku larang untuk kalian, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah juga menjelaskan dalam surah An-Nisa’ ayat 150 bahwa orang yang beriman kepada sebagian ajaran Allah dan menolak sebagian lainnya telah menempuh jalan kekafiran.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),” (QS. An-Nisa’ : 150)
Ayat ini juga mengingatkan kita bahwa taat kepada Allah itu nilainya jauh lebih besar daripada mengejar kesenangan dunia yang fana. Hal itu terjadi karena balasan ketaatan jauh lebih besar yaitu surga yang penuh kenikmata dan abadi. Sebaliknya, mengikuti hawa nafsu terasa menyenangkan sesaat, tetapi berujung pada siksa yang berat di akhirat.
Maka penting bagi kita untuk tetap istiqomah dalam taat walaupun banyak godaan dan ujian yang harus kita lewati. Sehingga Allah akan mengganti setiap perjuangan itu dengan balasan yang jauh lebih baik. Allah menjaga kita dari siksa api neraka dan memasukkan ke dalam surga yang penuh rahmat.
“Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Baqarah: 86)
Allah menutup ayat 86 Al-Baqarah dengan kalimat tegas balasan bagi orang-orang yang memilih-milih syariat bedasarkan nafsu. Mereka akan menerima siksa yang berat dan tidak mendapat pertolongan sedikit pun. Tidak ada harta atau tebusan yang mampu menyelamatkan mereka dari azab Allah.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (QS. Al-Ma’idah: 36)
Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 86
Berikut ini hikmah-hikmah pelajaran hidup dari Surah Al-Baqarah ayat 86 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan:
- Seorang mukmin harus menerima seluruh ajaran Allah, bukan hanya yang sesuai keinginan pribadi.
- Hawa nafsu tidak boleh menjadi standar dalam menentukan benar dan salah.
- Mengetahui kebenaran saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan ketaatan.
- Memilih-milih syariat dapat menyeret seseorang kepada jalan kesesatan.
- Kesenangan dunia hanya sementara, sedangkan balasan akhirat bersifat kekal.
- Taat kepada Allah adalah investasi terbesar untuk meraih kebahagiaan abadi.
- Godaan dunia sering membuat manusia mengorbankan prinsip agama demi keuntungan sesaat.
- Istiqomah dalam ketaatan membutuhkan kesabaran, perjuangan, dan pengorbanan.
- Tidak ada harta, jabatan, atau kekuasaan yang dapat menyelamatkan dari azab Allah.
- Orang yang mendahulukan akhirat akan memperoleh rahmat Allah dan kenikmatan surga.
Penutup
Surah Al-Baqarah ayat 86 mengajarkan bahwa keimanan menuntut ketaatan yang utuh kepada Allah. Seorang mukmin tidak boleh mengikuti syariat berdasarkan hawa nafsu dan kepentingan dunia.
Karena itu, mari kita utamakan akhirat dalam setiap pilihan hidup. Semoga Allah meneguhkan hati kita dalam ketaatan dan memasukkan kita ke surga-Nya.











Tinggalkan komentar