Al-Baqarah Ayat 90: Terjemah dan Tafsirnya

TAFSIR SURAH AL-BAQARAH 90

Setiap orang bisa mengaku mencinta kepada kebenaran. Namun, tidak semua orang siap menerimanya ketika datang dari pihak yang tidak disukai. Surah Al-Baqarah ayat 90 mengungkap kenyataan pahit tersebut. Ayat ini menjelaskan bagaimana rasa dengki mampu mengalahkan akal sehat dan menutup hati dari petunjuk Allah.

Dalam kehidupan, kita juga sering melihat orang menolak nasihat karena iri kepada penyampainya. Ada yang sulit menerima keberhasilan orang lain karena merasa lebih pantas mendapatkannya. Sikap seperti inilah yang menjadi akar penolakan Bani Israil terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Mereka mengetahui kebenaran, tetapi kedengkian membuat mereka memilih jalan yang merugikan diri sendiri.

Baca juga Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 89

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 90

بِئْسَمَا ٱشْتَرَوْا۟ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمْ أَن يَكْفُرُوا۟ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بَغْيًا أَن يُنَزِّلَ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۖ فَبَآءُو بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَٰفِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Bi`samasytarau bihī anfusahum ay yakfurụ bimā anzalallāhu bagyan ay yunazzilallāhu min faḍlihī ‘alā may yasyā`u min ‘ibādih, fa bā`ụ bigaḍabin ‘alā gaḍab, wa lil-kāfirīna ‘ażābum muhīn

“Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.” (QS. Al-Baqarah: 90)

Makna Kata

{ بِئۡسَمَا } (bi’samā) berarti seburuk-buruknya atau sangat buruk. Kata bi’sa digunakan Al-Qur’an untuk mencela suatu perbuatan. Lawan katanya adalah ni’ma, yaitu ungkapan pujian terhadap sesuatu yang baik.

{ بَغۡيًا } (baghyan) berarti kedengkian yang melahirkan kezaliman. Seseorang tidak hanya iri kepada orang lain, tetapi juga menolak kebenaran karena rasa dengki tersebut.

{ بَآءُو بِغَضَبٍ } (bā`ū bighaḍab) berarti mereka kembali dengan membawa kemurkaan Allah. Murka merupakan lawan dari rida Allah. Orang yang dimurkai akan dijauhkan dari rahmat-Nya. Sebaliknya, orang yang memperoleh rida Allah akan dekat dengan kasih sayang dan pertolongan-Nya.

{ مُّهِينٞ } (muhīn) berarti azab yang penuh kehinaan. Azab ini bukan hanya menimbulkan penderitaan, tetapi juga merendahkan dan menghinakan orang yang menerimanya sebagai balasan atas kekufuran dan kesombongannya.

Tafsir

Menurut As-Suddi, ayat ini menjelaskan kerugian terbesar yang dilakukan Bani Israil. Mereka menolak Al-Qur’an dan kerasulan Nabi Muhammad saw, padahal mereka mengetahui kebenarannya.

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad saw seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 46)

Mereka rela menukar petunjuk Allah dengan kedengkian dan kesombongan. Inilah jual beli yang paling merugikan karena mereka mengorbankan keselamatan akhirat demi hawa nafsu.

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa kedengkian menjadi penyebab utama penolakan mereka. Mereka tidak rela Allah memilih Nabi Muhammad saw sebagai rasul dari bangsa Arab. Padahal, Allah berhak memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

“Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 90)

Ayat ini mengajarkan agar kita menerima ketetapan Allah tanpa iri terhadap kelebihan orang lain.

Allah kemudian menyatakan bahwa mereka memperoleh murka di atas murka. Ibnu Abbas menafsirkan bahwa murka pertama muncul karena mereka mengubah Taurat. Murka berikutnya datang karena mereka mengingkari Nabi Muhammad saw. Ulama lain menjelaskan bahwa kemurkaan itu juga berkaitan dengan penolakan mereka terhadap Nabi Isa dan penyembahan anak sapi. Semua pendapat menunjukkan bahwa dosa yang terus diulang akan memperberat hukuman Allah.

“Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan.” (QS. Al-Baqarah: 61)

Pada akhir ayat, Allah mengancam orang-orang kafir dengan azab yang menghinakan. Kehinaan itu menjadi balasan atas kekafiran, kesombongan, dan kedengkian mereka. Ayat ini mengingatkan bahwa hati yang dipenuhi iri mudah menolak kebenaran. Sebaliknya, hati yang ikhlas akan lebih mudah menerima petunjuk Allah.

Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 90

Berikut ini hikmah-hikmah kehidupan dari Surah Al-Baqarah ayat 90 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan:

  • Jangan biarkan iri hati mengalahkan kebenaran. Kedengkian dapat membuat seseorang menolak nasihat dan kehilangan hidayah, meskipun ia mengetahui kebenaran.
  • Terimalah ketetapan Allah dengan hati yang lapang. Allah berhak memberikan rezeki, ilmu, kedudukan, dan kemuliaan kepada siapa pun yang Dia kehendaki.
  • Kesombongan adalah penghalang terbesar menuju hidayah. Orang yang merasa paling benar akan sulit menerima kebenaran dari orang lain.
  • Dosa yang terus diulang akan memperberat hukuman. Karena itu, segeralah bertaubat sebelum hati semakin keras dan jauh dari rahmat Allah.
  • Keikhlasan membuka pintu petunjuk Allah. Hati yang bersih dari iri dan dengki lebih mudah menerima kebenaran serta memperoleh rida-Nya.

Penutup

Surah Al-Baqarah ayat 90 mengingatkan bahwa kedengkian dapat menutup hati dari kebenaran yang sudah jelas. Karena itu, jagalah hati dengan keikhlasan, kerendahan hati, dan rasa syukur atas setiap ketetapan Allah.

Setiap muslim harus menerima kebenaran meskipun datang dari orang yang tidak disukai. Hati yang tunduk kepada Allah akan lebih mudah meraih hidayah, rida, dan keselamatan di dunia serta akhirat.

Share it:

Tags

El Nino

Pengajar pesantren tinggal di Kediri. Dilahirkan di dunia pada 17 Desember 1991. Riwayat pendidikan sudah 17 tahun hidup di pesantren menjadi santri dan pengurus. Tujuan mendirikan web mengajiislam.com untuk menjadi sarana berbagi ilmu yang telah saya pelajari di pondok dan menambah seduluran.

Related Post

Tinggalkan komentar