Surah Al-Baqarah ayat 92 mengingatkan bahwa melihat bukti kebenaran belum tentu melahirkan keimanan yang kokoh. Banyak orang memahami ajaran agama dengan baik, tetapi tetap mengikuti hawa nafsu saat menghadapi godaan. Ayat ini mengajak setiap Muslim memeriksa keteguhan hati, bukan sekadar menambah pengetahuan agama.
Allah mengingatkan Bani Israil tentang dosa besar setelah Nabi Musa membawa banyak mukjizat yang nyata. Mereka justru menyembah anak sapi ketika Nabi Musa as. meninggalkan mereka untuk menerima Taurat. Peristiwa ini membuktikan bahwa hati yang lalai mudah berpaling dari kebenaran. Karena itu, iman memerlukan ilmu, keikhlasan, dan keteguhan agar tidak runtuh oleh godaan dunia.
Baca juga Artikel Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 91
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 92
وَلَقَدْ جَآءَكُم مُّوسَىٰ بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ ٱتَّخَذْتُمُ ٱلْعِجْلَ مِنۢ بَعْدِهِۦ وَأَنتُمْ ظَٰلِمُونَ
Wa laqad jā`akum mụsā bil-bayyināti ṡummattakhażtumul-‘ijla mim ba’dihī wa antum ẓālimụn
“Sesungguhnya Musa as. telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 92)
Makna Kata
{ بِٱلۡبَيِّنَٰتِ } (al-Bayyināt): Berbagai mukjizat dan bukti nyata yang Allah berikan kepada Nabi Musa as. sebagai tanda kebenaran risalahnya.
{ ٱتَّخَذۡتُمُ ٱلۡعِجۡلَ } (ittakhadztumul-‘ijla): Kalian menjadikan patung anak sapi sebagai sesembahan ketika Nabi Musa as. meninggalkan kaumnya untuk menerima Taurat.
Tafsir
Melihat mukjizat nyata di depan mata adalah suatu kenikmatan yang harusnya menguatkan keimanan tapi Bani Israil justru sebaliknya. Mereka berpaling dari kebenaran dan memilih mengikuti hawa nafsu. Allah telah menunjukkan begitu banyak mukjizat melalui Nabi Musa as. yaitu, laut terbelah, makanan manna wa salwa, hingga mata air yang mengalir dari batu. Tapi ketika Nabi Musa as pergi ke Bukin Thur, mereka mengikuti Samiri yang mengajak menyembah berhala berupa patung anak sapi.
“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-A’raf: 148)
Allah menegaskan pada Al-Baqarah ayat 92 bahwa perbuatan mereka adalah kebodohan dan dzalim. Mereka menyembah berhala anak sapi sedangkan mukjizat-mukjizat sangat jelas tampak di depan mereka.
“Dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 92)
Akhirnya mereka menyesali perbuatannya karena telah tersesat dan mengakui serta meminta ampun kepada Allah.
“Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata: “Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi”.” (QS. Al-A’raf: 149)
Kisah Bani Israil mengajarkan bahwa banyaknya bukti kebenaran tidak otomatis melahirkan keimanan yang kokoh. Hati yang dikuasai hawa nafsu tetap mudah berpaling meski telah menyaksikan nikmat dan pertolongan Allah. Karena itu, setiap Muslim perlu menjaga keikhlasan, memperkuat tauhid, dan terus menaati Allah dalam setiap keadaan. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan Bani Israil yang baru menyadari kesesatannya setelah terjatuh ke dalam dosa besar dan merasakan penyesalan yang mendalam.
Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 92
Berikut ini hikmah-hikmah kehidupan dari Surah Al-Baqarah ayat 92 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan:











Tinggalkan komentar