Banyak orang menjalankan aturan yang mereka sukai, tetapi mengabaikan aturan yang terasa berat. Fenomena ini juga menjadi pelajaran penting setelah pembahasan surah Al-Baqarah ayat 84. Allah mengingatkan pada Al-Baqarah ayat 85 bahwa keimanan tidak cukup dengan memilih sebagian ajaran yang menguntungkan hawa nafsu diri sendiri. Seorang mukmin harus menerima seluruh petunjuk-Nya dengan sikap tunduk dan taat.
Surah Al-Baqarah ayat 85 mengangkat kisah Bani Israil yang terjebak dalam sikap tidak konsisten. Mereka menjalankan sebagian hukum Taurat, tetapi melanggar perintah lainnya demi kepentingan dunia. Mereka menebus tawanan sesuai kitab mereka, namun sebelumnya saling membunuh dan mengusir sesama. Melalui ayat ini, Allah mengajarkan pentingnya menjaga komitmen terhadap kebenaran secara utuh dalam setiap keadaan.
Baca juga Artikel Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 84
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 84
ثُمَّ أَنتُمْ هَٰٓؤُلَآءِ تَقْتُلُونَ أَنفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِّنكُم مِّن دِيَٰرِهِمْ تَظَٰهَرُونَ عَلَيْهِم بِٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ وَإِن يَأْتُوكُمْ أُسَٰرَىٰ تُفَٰدُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ ۚ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
ṡumma antum hā`ulā`i taqtulụna anfusakum wa tukhrijụna farīqam mingkum min diyārihim taẓāharụna ‘alaihim bil-iṡmi wal-‘udwān, wa iy ya`tụkum usārā tufādụhum wa huwa muḥarramun ‘alaikum ikhrājuhum, a fa tu`minụna biba’ḍil-kitābi wa takfurụna biba’ḍ, fa mā jazā`u may yaf’alu żālika mingkum illā khizyun fil-ḥayātid-dun-yā, wa yaumal-qiyāmati yuraddụna ilā asyaddil-‘ażāb, wa mallāhu bigāfilin ‘ammā ta’malụn
Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqaarah: 85)
Makna Kata
{ تَظَٰهَرُونَ } (tadzāharūn) Sebagian ulama qiraat juga membacanya dengan tasydid menjadi tadzdzāharūn. Kata ini bermakna saling membantu, saling mendukung, atau bekerja sama dalam suatu urusan.
{ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ } (bil itsmi wal ‘udwān) Al-itsm berarti perbuatan dosa yang membawa mudarat dan mengakibatkan seseorang berhak mendapatkan hukuman. Adapun al-‘udwān berarti tindakan melampaui batas, kezaliman, atau permusuhan terhadap orang lain.
{ أُسَارَىٰ } (usārā) Kata ini merupakan bentuk jamak dari asīr yang berarti tawanan perang atau orang yang ditangkap oleh pihak musuh dalam peperangan.
{ الْخِزْيُ } (al-khizyu) Kata al-khizyu berarti kehinaan, kerendahan, dan aib yang membuat seseorang kehilangan kemuliaan di hadapan orang lain. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan hukuman yang disertai rasa malu dan tercelanya seseorang di dunia maupun akhirat.
Tafsir
Allah mengingatkan Bani Israil tentang perjanjian yang pernah mereka ikrarkan di hadapan-Nya. Mereka berjanji tidak akan saling membunuh dan tidak akan mengusir sesama dari kampung halamannya. Mereka juga mengakui kebenaran perintah tersebut. Namun, kenyataan menunjukkan hal yang berbeda. Ketika konflik terjadi, mereka justru melanggar janji yang mereka setujui sendiri.
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.” (Al-Baqarah: 84)
Pada masa itu, kaum Yahudi Madinah terbagi menjadi beberapa kelompok. Sebagian menjadi sekutu suku Aus dan sebagian lainnya mendukung suku Khazraj. Ketika perang pecah, mereka ikut berperang bersama sekutunya masing-masing. Akibatnya, sesama Yahudi saling membunuh, melukai, dan mengusir satu sama lain. Padahal Taurat dengan tegas melarang tindakan tersebut.
Ironisnya, setelah peperangan berakhir mereka tetap menjalankan hukum Taurat dalam urusan tebusan tawanan. Mereka berusaha membebaskan tawanan dari kelompoknya sesuai perintah kitab mereka. Namun mereka mengabaikan perintah yang melarang pembunuhan dan pengusiran. Karena itu Allah menegur mereka dengan pertanyaan yang sangat keras, “Apakah kalian beriman kepada sebagian kitab dan mengingkari sebagian yang lain?”
Teguran ini menunjukkan bahwa ketaatan tidak boleh berjalan setengah-setengah. Seseorang tidak boleh mengambil ajaran agama yang menguntungkan dirinya lalu meninggalkan bagian yang terasa berat. Allah menghendaki kepatuhan yang utuh, bukan kepatuhan yang mengikuti kepentingan pribadi atau kelompok.
“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah (antara iman dan kufur). Mereka itulah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya.” (QS. An-Nisa: 150-151)
Pesan ini sangat relevan pada zaman sekarang. Banyak orang rajin menjalankan ibadah yang terlihat oleh manusia. Namun mereka masih meremehkan kejujuran, amanah, dan hak sesama. Ada yang bersemangat membela agama di media sosial, tetapi mudah menghina dan memfitnah saudaranya sendiri. Ada pula yang menuntut keadilan untuk dirinya, tetapi mengabaikan keadilan saat menyangkut kepentingan kelompoknya.
Surah Al-Baqarah ayat 85 mengingatkan bahwa standar kebenaran tidak boleh berubah karena kepentingan dunia. Seorang mukmin harus menerima seluruh ajaran Allah dengan sikap tunduk dan ikhlas. Ia tidak boleh memilih hukum yang sesuai keinginannya lalu menolak hukum yang bertentangan dengan hawa nafsunya.
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa kaum Yahudi sebenarnya mengetahui hukum Taurat dengan baik. Mereka memahami hak dan kewajiban yang Allah tetapkan. Namun mereka lebih memilih loyalitas kepada sekutu dan keuntungan duniawi. Mereka rela melanggar perintah Allah demi mempertahankan kedudukan dan kepentingan kelompoknya.
Fenomena serupa masih sering muncul pada masa kini. Fanatisme kelompok terkadang membuat seseorang membela kesalahan yang jelas. Sebagian orang menerima kebenaran hanya jika datang dari kelompoknya. Sebaliknya, mereka menolak kebenaran ketika datang dari pihak yang tidak mereka sukai. Sikap seperti ini sangat dekat dengan perilaku tercela dalam ayat ini.
Karena pelanggaran tersebut, Allah menetapkan balasan berupa kehinaan di dunia dan azab yang berat di akhirat. Kehinaan muncul ketika manusia meninggalkan petunjuk Allah demi kepentingan sesaat. Sementara azab akhirat menanti mereka yang mengetahui kebenaran tetapi sengaja mengabaikannya.
Pada akhir ayat, Allah menegaskan bahwa Dia tidak pernah lalai terhadap perbuatan manusia. Tidak ada satu pun tindakan yang luput dari pengawasan-Nya. Setiap pilihan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Karena itu, seorang mukmin harus berusaha menjalankan agama secara utuh, konsisten, dan tidak memilih-milih hukum Allah sesuai kepentingannya.
Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 85
Berikut ini hikmah-hikmah pelajaran hidup dari Surah Al-Baqarah ayat 85 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan:
- Jalankan ajaran Islam secara menyeluruh, bukan hanya bagian yang sesuai dengan keinginan pribadi.
- Hindari sikap memilih-milih hukum Allah berdasarkan keuntungan duniawi.
- Jaga hak sesama muslim dan jangan menyakiti mereka dengan ucapan maupun perbuatan.
- Jangan biarkan fanatisme kelompok mengalahkan kebenaran dan keadilan.
- Konsistensi dalam menaati agama menjadi tanda keimanan yang kuat.
- Utamakan perintah Allah di atas kepentingan pribadi, organisasi, atau golongan.
- Jangan mendukung perbuatan dosa dan kezaliman meskipun dilakukan oleh orang yang dekat dengan kita.
- Biasakan bersikap adil kepada semua orang, termasuk kepada pihak yang berbeda pendapat.
- Ingat bahwa setiap perbuatan akan mendapatkan balasan dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
- Bangun kepribadian yang jujur dan utuh dalam beragama, tanpa standar ganda dalam menjalankan syariat.
Penutup
Surah Al-Baqarah ayat 85 mengajarkan pentingnya ketaatan yang utuh kepada Allah. Seorang mukmin tidak boleh memilih ajaran sesuai kepentingan dan hawa nafsunya. Ia harus menerima seluruh petunjuk Allah dengan iman, keikhlasan, dan ketundukan.
Ayat ini juga mengingatkan bahwa Allah mengetahui setiap pilihan dan perbuatan manusia. Karena itu, mari kita menjaga konsistensi dalam beragama dan berlaku adil kepada sesama. Semoga Allah membimbing kita untuk istiqamah di atas kebenaran hingga akhir hayat.











Tinggalkan komentar