Al-Baqarah Ayat 93: Terjemah dan Tafsirnya

TAFSIR SURAH AL-BAQARAH 93

Surah Al-Baqarah ayat 93 mengingatkan bahwa mengaku beriman seharusnya siap menaati Allah. Banyak orang mendengar nasihat yang benar, tetapi tetap mengikuti hawa nafsu. Sikap itu dapat mengeraskan hati hingga kebenaran terasa berat untuk diterima. Ayat ini mengajak setiap muslim menguji apakah iman benar-benar selaras dengan setiap tindakan kita.

Fenomena itu pernah terjadi pada Bani Israil ketika Allah mengambil perjanjian dengan mereka. Allah memerintahkan mereka memegang teguh Taurat dan menaati seluruh ajaran-Nya. Namun, mereka memilih membangkang meski sudah melihat bukti kekuasaan Allah. Tafsir ayat ini mengajarkan bahwa iman sejati selalu melahirkan ketaatan, bukan sekadar pengakuan di lisan.

Baca juga artikel Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 92

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 93

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَٰقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ ٱلطُّورَ خُذُوا۟ مَآ ءَاتَيْنَٰكُم بِقُوَّةٍ وَٱسْمَعُوا۟ ۖ قَالُوا۟ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا۟ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِۦٓ إِيمَٰنُكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Wa iż akhażnā mīṡāqakum wa rafa’nā fauqakumuṭ-ṭụr, khużụ mā ātainākum biquwwatiw wasma’ụ, qālụ sami’nā wa ‘aṣainā wa usyribụ fī qulụbihimul-‘ijla bikufrihim, qul bi`samā ya`murukum bihī īmānukum ing kuntum mu`minīn

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengar tetapi tidak mentaati”. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).” (QS. Al-Baqarah: 93)

Makna Kata

Makna kata: { وَأُشۡرِبُواْ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡعِجۡلَ } (wa usyribū fī qulūbihimul-‘ijla) berarti kecintaan kepada patung anak sapi telah meresap kuat ke dalam hati mereka. Kecintaan itu muncul setelah mereka mengikuti ajakan Samiri untuk menyembah patung anak sapi. Akibatnya, hati mereka dipenuhi kecenderungan kepada kesyirikan dan semakin jauh dari ketaatan kepada Allah.

Tafsir

Allah SWT mengingatkan kembali berbagai pelanggaran Bani Israil terhadap perjanjian yang telah mereka sepakati. Mereka bersikap sombong dan berpaling setelah menerima banyak bukti kebenaran. Karena itu, Allah mengangkat Gunung Thur di atas mereka sebagai peringatan yang nyata. Mereka akhirnya menerima perjanjian tersebut, tetapi kemudian kembali melanggarnya. Mereka berkata, “Kami mendengar,” namun mereka memilih tidak menaati perintah Allah. Sikap ini menunjukkan bahwa keimanan Bani Israil tidak sampai ke hati mereka, karena masih suka melanggar aturan Allah.

Kemudian Allah menjelaskan penyebab utama pembangkangan mereka. Kecintaan kepada berhala anak sapi telah meresap kuat ke dalam hati mereka karena kekufuran. Qatadah menjelaskan bahwa hati mereka dipenuhi kecintaan terhadap berhala anak sapi yang mereka sembah. Sampai-sampai mereka tidak mau meninggalkan penyembahan berhala tersebut kecuali Nabi Musa as sendiri yang melarangnya

“Mereka (Bani Israil) menjawab: “Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami”.” (QS. Thoha: 91)

Ayat 93 Al-Baqarah ini mengajarkan bahwa dosa yang terus dipelihara dapat menguasai hati seseorang. Ketika hati mencintai kebatilan, akan sulit menerima kebenaran walau pun tampak jelas di depan mata.

Selanjutnya, Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw membantah pengakuan iman mereka. Allah menyatakan bahwa iman seperti itu sangat buruk jika benar berasal dari ajaran kitab Taurat. Mereka mengingkari perjanjian, menolak ayat-ayat Allah, dan membangkang kepada para nabi. Puncaknya, mereka juga mengingkari kerasulan Nabi Muhammad saw sebagai penutup para rasul. Semua perbuatan itu membuktikan bahwa pengakuan iman mereka tidak sesuai dengan kenyataan.

Tafsir ayat ini mengingatkan bahwa iman bukan sekadar pengakuan di lisan. Iman sejati selalu melahirkan ketaatan kepada Allah dan pada rasul-Nya, seperti kata-kata bijak berikut ini:

“Iman adalah keyakinan di dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.”

Sebaliknya, hawa nafsu dan dosa yang dipelihara dapat menguasai hati. Akibatnya, seseorang tetap memilih menolak kebenaran meskipun bisa melihatnya. Karena itu, setiap muslim perlu menjaga hati agar selalu mencintai petunjuk Allah melebihi keinginan dirinya.

Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 93

Berikut ini hikmah-hikmah kehidupan dari Surah Al-Baqarah ayat 93 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan:

5 Hikmah Kehidupan dari Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 93

  1. Iman harus dibuktikan dengan ketaatan.
    Mengaku beriman tidak cukup hanya dengan ucapan. Iman yang benar selalu mendorong seseorang menaati perintah Allah dalam setiap keadaan.
  2. Jangan biarkan dosa menguasai hati.
    Dosa yang terus dilakukan akan semakin melemahkan hati. Akibatnya, seseorang sulit menerima nasihat dan enggan mengikuti kebenaran.
  3. Hawa nafsu bisa mengalahkan akal dan iman.
    Bani Israil tetap mencintai berhala meski telah melihat bukti kekuasaan Allah. Karena itu, seorang muslim harus mengendalikan hawa nafsunya dengan ilmu dan takwa.
  4. Jangan memilih ajaran agama sesuai keinginan sendiri.
    Allah memerintahkan kita menerima seluruh syariat, bukan hanya bagian yang sesuai dengan keinginan. Ketaatan yang utuh menjadi tanda keimanan yang tulus.
  5. Jagalah hati agar selalu mencintai petunjuk Allah.
    Hati yang dipenuhi kecintaan kepada Allah akan mudah menerima kebenaran. Sebaliknya, hati yang dipenuhi kecintaan kepada maksiat akan semakin jauh dari hidayah.

Penutup

Surah Al-Baqarah ayat 93 mengajarkan bahwa iman sejati selalu melahirkan ketaatan kepada Allah. Jangan puas dengan pengakuan di lisan tanpa membuktikannya melalui amal saleh. Jagalah hati agar tetap mencintai kebenaran dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Semoga Allah menjadikan hati kita lembut saat menerima nasihat dan teguh menjalankan perintah-Nya. Mari terus memperbaiki iman dengan ilmu, amal, dan keikhlasan. Itulah jalan menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Share it:

Tags

El Nino

Pengajar pesantren tinggal di Kediri. Dilahirkan di dunia pada 17 Desember 1991. Riwayat pendidikan sudah 17 tahun hidup di pesantren menjadi santri dan pengurus. Tujuan mendirikan web mengajiislam.com untuk menjadi sarana berbagi ilmu yang telah saya pelajari di pondok dan menambah seduluran.

Related Post

Tinggalkan komentar