Al-Baqarah Ayat 100: Terjemah dan Tafsirnya

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 100

Banyak orang mengaku memegang komitmen, tetapi tidak sedikit yang mengabaikannya saat keadaan berubah. Fenomena ini bukan hanya terjadi hari ini. Surah Al-Baqarah ayat 100 mengingatkan tentang sebuah kebiasaan lama yang terus berulang. Sebagian manusia mudah mengucapkan janji, tetapi sulit menjaganya. Akibatnya, mereka mengabaikan kebenaran meski sudah melihat bukti yang sangat jelas.

Melalui ayat ini, Allah menegur Bani Israil yang berulang kali melanggar perjanjian dengan-Nya. Mereka mengenal tanda-tanda kenabian Muhammad saw dalam kitab mereka. Namun, sebagian dari mereka memilih berpaling karena hawa nafsu dan kepentingan pribadi. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa masalah utama mereka bukan kekurangan bukti. Mereka justru menolak kebenaran yang sudah mereka ketahui. Pelajaran ini sangat relevan bagi setiap muslim agar selalu menjaga amanah, menepati janji, dan menerima kebenaran dengan hati yang jujur.

Baca juga artikel Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 99

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 100

أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَّبَذَهُ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Awa kullamā ‘āhadū ‘ahdan nabadzahū farīqum minhum, bal aktsaruhum lā yu’minūn.

“Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan dari mereka melemparkannya (melanggarnya)? Bahkan kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Al-Baqarah: 100)

Makna Kata

  1. {ءَايَٰتِۢ بَيِّنَٰتٖۖ } Aayatim bayyinaat : Yaitu ayat-ayat al-Qur’anul kariim yang jelas maknanya.
  2. { يَكۡفُرُ بِهَآ } Yakfuru bihaa : Mengingkarinya sebagai kitab Allah dan wahyuNya yang diturunkan kepada rasul-Nya Muhammad saw
  3. { ٱلۡفَٰسِقُونَ } al-Faasiqun : Orang-orang yang menentang kewajiban yang seharusnya dilakukan seperti beriman kepada Allah dan tunduk kepadaNya secara lahir dan batin.

Tafsir

Ketika Rasulullah saw mengajak orang-orang Yahudi beriman kepada risalah yang beliau bawa, beliau juga mengingatkan perjanjian yang pernah Allah ambil dari mereka. Dalam kitab mereka, Allah telah menjelaskan tanda-tanda kenabian Muhammad saw dan memerintahkan mereka untuk mengikutinya.

“(Ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang utusan Allah yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad (Nabi Muhammad).” Akan tetapi, ketika utusan itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-Shaff: 6)

Namun, Malik bin Saif, salah seorang Yahudi, menolak kenyataan tersebut. Ia mengklaim bahwa Allah tidak pernah menjanjikan kedatangan Muhammad saw dan tidak pernah mengambil perjanjian apa pun terkait dirinya. Karena itulah Allah menurunkan firman-Nya,

“Patutkah setiap kali mereka mengikat janji, segolongan dari mereka melemparkannya?” (QS. Al-Baqarah: 100).

Ayat ini mengungkap kebiasaan buruk sebagian Bani Israil yang berulang kali melanggar janji. Mereka tidak hanya mengabaikan perjanjian dengan Allah, tetapi juga menolak kebenaran yang telah mereka ketahui. Al-Hasan Al-Bashri menjelaskan bahwa hampir setiap perjanjian yang mereka buat berakhir dengan pelanggaran. Hari ini mereka berjanji, esok mereka mengingkarinya. Sikap seperti ini menunjukkan lemahnya komitmen terhadap kebenaran dan mudahnya seseorang mengikuti hawa nafsu ketika kepentingannya terganggu.

Allah menggunakan kata nabadzahu yang berarti membuang atau melemparkan. Qatadah menjelaskan bahwa sebagian dari mereka membuang perjanjian tersebut dan tidak lagi memedulikannya. Ibnu Jarir menerangkan bahwa kata ini menggambarkan sesuatu yang sengaja dilempar jauh karena dianggap tidak berharga. Gambaran ini menunjukkan betapa buruknya sikap mereka terhadap petunjuk Allah. Mereka tidak sekadar melupakan janji, tetapi sengaja menyingkirkannya dari kehidupan mereka.

Karena itulah Allah mencela mereka dengan keras. Mereka telah berjanji untuk memegang teguh wahyu Allah, tetapi justru mendustakan Rasulullah saw. Padahal sifat, ciri, dan kabar tentang beliau telah disebutkan dalam Taurat dan Injil. Allah berfirman tentang orang-orang yang mengikuti Rasul yang ummi, yang namanya mereka dapati tertulis dalam kitab-kitab mereka.

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka…, hingga akhir ayat, (Al-A’raf: 157)

Penolakan mereka bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena keengganan menerima kebenaran yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Ayat ini juga menjadi pelajaran penting bagi setiap muslim. Menepati janji merupakan bagian dari keimanan, sedangkan mengingkarinya merupakan sifat yang tercela. Hadits Nabi Muhammad saw juga menjelaskan ingkar janji adalah salah satu sifat kemunafikan.

“Tanda orang munafik ada tiga: jika bicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar janji dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari & Muslim)

Seseorang tidak cukup hanya mengetahui kebenaran. Ia juga harus memiliki keberanian untuk menerimanya dan konsisten menjalankannya. Jangan sampai kita mengetahui perintah Allah, tetapi mengabaikannya ketika bertentangan dengan kepentingan pribadi. Keimanan yang sejati tampak dari kesediaan seseorang memegang janji, menjaga amanah, dan tunduk kepada kebenaran dalam setiap keadaan.

Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 100

  1. Menjaga janji adalah bukti keimanan.
    Orang yang beriman tidak mudah mengingkari komitmen, meskipun keadaan berubah dan kepentingannya terganggu.
  2. Mengetahui kebenaran saja tidak cukup.
    Seseorang harus berani menerima dan mengamalkan kebenaran yang telah ia ketahui, meskipun terasa berat.
  3. Hawa nafsu sering menjadi penghalang hidayah.
    Banyak orang menolak kebenaran bukan karena kurang bukti, tetapi karena tidak sesuai dengan keinginannya.
  4. Jangan meremehkan amanah yang Allah berikan.
    Mengabaikan perintah Allah dan melanggar amanah dapat menyeret seseorang kepada kefasikan dan kerugian.
  5. Kejujuran dan konsistensi membentuk karakter mulia.
    Muslim yang baik menjaga ucapan, menepati janji, dan tetap istiqamah dalam kebenaran di setiap keadaan.

Penutup

Surah Al-Baqarah ayat 100 mengajarkan pentingnya menjaga janji dan memegang teguh kebenaran. Allah mencela orang yang mengetahui kebenaran tetapi sengaja mengabaikannya. Karena itu, setiap muslim harus membangun keimanan dengan sikap jujur, amanah, dan konsisten.

Jangan biarkan hawa nafsu mengalahkan petunjuk Allah yang telah jelas. Terimalah kebenaran meskipun tidak selalu sesuai dengan keinginan pribadi. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang menepati janji, menjaga amanah, dan istiqamah di atas kebenaran.

Share it:

Tags

El Nino

Pengajar pesantren tinggal di Kediri. Dilahirkan di dunia pada 17 Desember 1991. Riwayat pendidikan sudah 17 tahun hidup di pesantren menjadi santri dan pengurus. Tujuan mendirikan web mengajiislam.com untuk menjadi sarana berbagi ilmu yang telah saya pelajari di pondok dan menambah seduluran.

Related Post

Tinggalkan komentar