Kadang manusia menolak kebenaran bukan karena tidak mengetahuinya, tetapi karena enggan menerimanya. Inilah pelajaran penting dari surah Al-Baqarah ayat 101 tentang sikap sebagian Ahli Kitab. Mereka mengetahui kabar kedatangan Nabi Muhammad saw. dalam kitab mereka.
Namun, mereka justru mengabaikan kebenaran itu seolah-olah tidak pernah mengetahuinya. Sikap seperti ini juga masih terjadi dalam kehidupan kita. Seseorang dapat mengetahui kebenaran, tetapi kepentingan, hawa nafsu, dan kesombongan membuatnya memilih jalan yang berlawanan.
Ayat ini menggambarkan bagaimana sebagian Ahli Kitab meninggalkan petunjuk Allah yang telah mereka ketahui. Mereka bahkan memilih mengikuti ajaran sihir dan jalan-jalan yang bertentangan dengan wahyu. Qatadah menjelaskan bahwa mereka sebenarnya mengetahui kebenaran tersebut.
Namun, mereka menyembunyikan, mengabaikan, dan mengingkari ilmu yang telah mereka miliki. Kisah ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan saja tidak selalu menyelamatkan manusia. Ilmu harus diikuti kejujuran dan keberanian untuk tunduk kepada kebenaran.
Baca juga artikel Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 100
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 101
وَلَمَّا جَآءَهُمْ رَسُولٌۭ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌۭ لِّمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌۭ مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ كِتَـٰبَ ٱللَّهِ وَرَآءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Wa lammā jā`ahum rasụlum min ‘indillāhi muṣaddiqul limā ma’ahum nabaża farīqum minallażīna ụtul-kitāba kitāballāhi warā`a ẓuhụrihim ka`annahum lā ya’lamụn
“Ketika seorang Rasul dari Allah datang kepada mereka, membenarkan apa yang ada pada mereka, sebagian Ahli Kitab melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka, seolah-olah mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 101)
Makna Kata
{ رَسُولٞ } Rasul: Kata رَسُولٞ (rasul) berbentuk nakirah atau isim yang tidak definitif. Bentuk ini menunjukkan pengagungan terhadap kedudukan seorang Rasul. Rasul yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad saw. Adapun Rasul sebelumnya yang membawa kitab adalah Nabi Isa ‘alaihissalam.
{ لِّمَا مَعَهُمۡ } Limaa Ma‘ahum: Frasa ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw datang untuk membenarkan keterangan yang telah mereka miliki. Kitab Taurat telah menjelaskan sifat-sifat Rasulullah saw, menetapkan kenabian beliau, serta memuat pokok-pokok ajaran agama yang sesuai dengan risalah Islam.
{ كِتَٰبَ ٱللَّهِ } Kitaaballah: Yang dimaksud dengan Kitab Allah dalam ayat ini adalah kitab Taurat. Taurat sebenarnya memuat petunjuk kebenaran kenabian Nabi Muhammad saw dan agama Islam. Namun, sebagian Ahli Kitab justru mengabaikan petunjuk yang telah mereka ketahui.
{ وَرَآءَ ظُهُورِهِمۡ } Waraa’a Dzuhuurihim: Ungkapan ini menggambarkan sikap mereka yang berpaling dan tidak lagi memperhatikan kitab Taurat. Mereka menjauh dari isi Taurat dan seolah-olah tidak mengetahui isi kitab tersebut. Padahal, mereka sebenarnya memahami dan mengetahui kebenaran yang terkandung di dalamnya.
Tafsir
Surah Al-Baqarah ayat 101 menggambarkan kebiasaan sebagian Bani Israil yang sering merusak perjanjian dengan Allah. Al-Hasan Al-Basri menjelaskan bahwa mereka kerap membuat perjanjian, lalu melanggarnya kembali. Allah mencela sikap tersebut karena mereka tidak memegang janji dan mengamalkan petunjuk dengan sungguh-sungguh.
Mereka sebenarnya telah mengetahui kabar tentang kedatangan Nabi Muhammad saw melalui kitab mereka. Taurat telah menjelaskan sifat-sifat Nabi Muhammad saw serta memerintahkan mereka untuk mengikutinya. Namun, ketika Rasulullah saw benar-benar datang, sebagian dari mereka justru menyembunyikan, menolak dan mendustakannya.
“Orang-orang yang telah Kami anugerahi Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Nabi Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sekelompok dari mereka pasti menyembunyikan kebenaran, sedangkan mereka mengetahui(-nya).” (QS. Al-Baqarah: 146)
Allah menggambarkan sikap mereka dengan ungkapan nabaza wara’a zhuhurihim, yaitu melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung. Ungkapan ini menggambarkan sikap berpaling secara sengaja dari kebenaran. Qatadah menjelaskan bahwa mereka sebenarnya mengetahui kebenaran tersebut. Namun, mereka memilih menyembunyikan dan mengingkari pengetahuan yang telah mereka miliki.
“Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. An-Naml: 14
Di sinilah kita menemukan pelajaran penting dalam kehidupan. Manusia tidak selalu menolak kebenaran karena kekurangan ilmu atau bukti. Terkadang, hawa nafsu, kepentingan, dan kesombongan membuat seseorang menutup mata terhadap kebenaran. Karena itu, kita tidak cukup hanya mengetahui kebenaran. Kita juga harus memiliki kejujuran dan keberanian untuk menerima serta mengamalkannya.
Jangan sampai kita seperti orang yang membawa ilmu, tetapi tidak mengikuti kebenaran yang diketahuinya. Ilmu seharusnya mendekatkan kita kepada Allah dan memperbaiki perilaku kita. Sebab, pengetahuan tanpa kejujuran dapat membawa manusia menjauhi jalan kebenaran.
Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 101
- Ilmu Tanpa Kejujuran Hati Tidak Akan MenyelamatkanMengetahui kebenaran saja tidak cukup. Tanpa adanya kejujuran dan ketundukan hati, ilmu tidak akan memberi manfaat dan justru bisa menjadi bumerang bagi pemiliknya.
- Bahaya Hawa Nafsu dan KesombonganPenyebab utama seseorang menolak kebenaran sering kali bukan karena kurangnya bukti atau pengetahuan, melainkan karena tertutup oleh ego, kesombongan, serta kepentingan pribadi.
- Ancaman dari Sikap Pura-Pura Tidak Tahu (Sengaja Mengabaikan)Mengabaikan kebenaran yang sudah diketahui (nabaza wara’a zhuhurihim) merupakan bentuk kecurangan spiritual. Sikap pura-pura tidak tahu demi melayani hawa nafsu adalah cermin dari kezaliman diri.
- Kewajiban Menjaga dan Menepati JanjiSikap suka melanggar perjanjian dan mengabaikan petunjuk Allah merupakan kebiasaan buruk yang mendatangkan celaan-Nya. Menjaga komitmen terhadap kebenaran adalah tanda keimanan yang sejati.
- Tujuan Utama Ilmu Adalah AmalanMuara dari ilmu yang benar adalah perubahan sikap dan amal perbuatan. Pengetahuan seharusnya membimbing kita untuk semakin dekat kepada Allah dan berani mengamalkan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup
Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga kejujuran hati dalam menerima setiap petunjuk kebenaran. Jangan sampai kesombongan dan hawa nafsu membuat kita sengaja mengabaikan kebenaran yang telah kita ketahui.
Mari kita jadikan ilmu sebagai penerang yang membimbing langkah serta memperbaiki perilaku sehari-hari. Kita harus berani tunduk pada kebenaran agar selamat di dunia dan akhirat.











Tinggalkan komentar