Allah menjelaskan pada surah Al-Baqarah ayat 95 bahwa orang-orang Yahudi tidak akan pernah mengharapkan kematian karena mereka mengetahui kejahatan yang telah dilakukan. Dosa dan kezaliman membuat mereka takut menghadapi balasan Allah di akhirat. Tidak ada pengakuan yang mampu menyembunyikan kenyataan tersebut. Allah mengetahui setiap perbuatan manusia dan akan memberikan balasan dengan kebijaksanaan serta keadilan yang sempurna.
Ayat ini mengajak kita menguji kejujuran hati, bukan sekadar mendengar pengakuan manusia. Banyak orang tampak percaya diri saat berbicara tentang akhirat. Namun, mereka justru takut menghadapi kematian karena sadar membawa banyak dosa. Ayat ini mengingatkan bahwa keyakinan sejati selalu berjalan bersama amal yang benar.
Baca juga artikel Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 94
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 95
وَلَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًۢا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ
Wa lay yatamannauhu abadam bimā qaddamat aidīhim, wallāhu ‘alīmum biẓ-ẓālimīn
“Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.” (QS. Al-Baqarah: 95)
Tafsir
Rasulullah saw pernah mengajak delegasi Nasrani dari Najran melakukan mubahalah setelah menjelaskan kebenaran tentang Nabi Isa. Ajakan itu berdasarkan perintah Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 61.
“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”
Mereka memahami risiko berdusta di hadapan Allah. Karena itu, mereka menolak mubahalah dan memilih membayar jizyah. Sikap tersebut menunjukkan bahwa orang yang mengetahui kebenaran akan berpikir panjang sebelum menantang keputusan Allah.
Makna ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Maryam ayat 75.
“Katakanlah: “Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya”.”
Allah memberi kesempatan kepada orang yang tetap memilih kesesatan. Namun, kesempatan itu bukan tanda keridaan-Nya. Allah hanya menangguhkan hukuman sesuai hikmah dan keadilan-Nya. Karena itu, manusia tidak boleh mengira umur panjang selalu menjadi bukti kemuliaan di sisi Allah.
Surah Al-Baqarah ayat 95 menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi menolak tantangan untuk mengharapkan kematian. Mereka memahami banyak dosa dan kezaliman telah mereka lakukan. Kesadaran itu membuat mereka takut menghadapi kehidupan akhirat. Mereka mengetahui balasan Allah jauh lebih berat daripada kenikmatan dunia yang sementara.
Allah kemudian mengungkap keadaan hati mereka yang sebenarnya. Mereka menjadi manusia yang paling rakus terhadap kehidupan dunia. Mereka berharap hidup selama mungkin karena takut menghadapi akibat perbuatannya. Padahal, umur yang panjang tidak pernah menghapus dosa tanpa taubat. Setiap manusia tetap akan menemui kematian pada waktu yang Allah tetapkan.
Sebagian riwayat menyebut mereka bahkan berharap dapat hidup hingga seribu tahun. Harapan itu lahir karena kecintaan berlebihan kepada dunia. Namun, umur yang sangat panjang tetap tidak mampu menghindarkan seseorang dari azab Allah. Panjang usia hanya bernilai jika diisi dengan iman, amal saleh, dan taubat yang tulus.
Ayat ini mengajarkan bahwa rasa takut kepada kematian sering mencerminkan keadaan hati seseorang. Orang yang terus menumpuk dosa akan merasa berat menghadapi perjumpaan dengan Allah. Sebaliknya, orang beriman mempersiapkan kematian dengan memperbanyak amal saleh. Mereka tidak tertipu oleh panjang umur, tetapi mengejar keberkahan hidup.
Allah menutup ayat ini dengan penegasan bahwa Dia Maha Mengetahui seluruh perbuatan manusia. Tidak ada amal yang tersembunyi dari pengawasan-Nya. Kebaikan akan mendapat balasan terbaik. Kezaliman juga akan menerima hukuman yang setimpal. Karena itu, setiap manusia perlu segera memperbaiki diri sebelum kesempatan hidup berakhir.
Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 95
Berikut ini hikmah-hikmah kehidupan dari Surah Al-Baqarah ayat 95 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan:
- Kejujuran iman terlihat dari amal, bukan sekadar ucapan.
Jangan hanya mengaku beriman. Buktikan keimanan melalui ketaatan, akhlak mulia, dan amal saleh setiap hari. - Dosa yang terus dibiarkan akan membuat hati gelisah.
Orang yang menumpuk maksiat akan takut menghadapi kematian. Karena itu, segeralah bertaubat sebelum terlambat. - Panjang umur hanya bernilai jika digunakan untuk beribadah.
Umur yang lama tidak menjamin keselamatan. Isi setiap hari dengan amal yang mendekatkan diri kepada Allah. - Jangan tertipu oleh kenikmatan dunia yang sementara.
Harta, jabatan, dan usia akan berakhir. Jadikan akhirat sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan. - Ingatlah bahwa Allah mengetahui semua perbuatan manusia.
Tidak ada kebaikan atau kezaliman yang tersembunyi dari-Nya. Karena itu, jagalah hati, lisan, dan perbuatan di mana pun berada.
Penutup
Surah Al-Baqarah ayat 95 mengingatkan bahwa dosa dapat membuat hati takut menghadapi kematian. Karena itu, jangan menunda taubat dan perbaikan diri. Isi setiap hari dengan iman, amal saleh, dan keikhlasan kepada Allah.
Jangan hanya mengejar umur panjang, tetapi kejarlah kehidupan yang penuh berkah. Persiapkan bekal terbaik sebelum bertemu dengan Allah. Semoga Dia meneguhkan hati kita di atas kebenaran hingga akhir kehidupan.











Tinggalkan komentar