Dalam rangkaian kisah perintah kepada Bani Israil untuk menyembelih sapi, tampak jelas bagaimana mereka berulang kali mempersulit diri sendiri. Setelah pada ayat sebelumnya mereka mempertanyakan umur sapi, kini pada ayat 69 Surah Al-Baqarah, mereka kembali mengajukan pertanyaan tentang warna sapi. Sikap ini menunjukkan kecenderungan untuk menunda ketaatan, alih-alih segera melaksanakan perintah yang telah jelas.
Baca juga atikel: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 68
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 69
قَالُوا۟ ٱدْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُۥ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَآءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ ٱلنَّٰظِرِينَ
Qālud’u lanā rabbaka yubayyil lanā mā launuhā, qāla innahụ yaqụlu innahā baqaratun ṣafrā`u fāqi’ul launuhā tasurrun-nāẓirīn
“Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, dan menyenangkan orang-orang yang memandangnya”. (QS. Al-Baqarah: 69)
Makna Kata
فَاقِعٌ : (yang kuning tua warnanya), berwarna kuning yang sangat pekat.
Tafsir
Terus saja Bani Israil bertanya hal-hal yang tidak penting. Sekarang mereka bertanya tentang warna dari sapi yang harus mereka sembelih. Padahal pada ayat 68, Nabi Musa a.s. sudah memerintahkan untuk segera melaksanakan tugas dan jangan banyak bertanya lagi.
Alih-alih sami’na wa atho’na, mereka justru mengajukan pertanyaan lagi. Banyaknya pertanyaan Bani Israil adalah bentuk keengganan bergegas melaksanakan perintah Allah. Jangan pernah menunda kebaikan atau menunda perintah Allah, bisa jadi karena penundaan itu akan menimbulkan kerugian bagi kita.
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
“Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap.” (HR. Muslim)
Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 69
Beriktu ini hikmah-hikmah pelajaran hidup dari Surah Al-Baqarah ayat 69 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:
- Segera taat tanpa menunda → Jika perintah sudah jelas, jangan ditunda-tunda dengan alasan yang tidak perlu.
- Jangan mempersulit diri sendiri → Terlalu banyak bertanya pada hal yang tidak penting justru bisa membuat urusan menjadi lebih rumit.
- Fokus pada inti perintah → Utamakan pelaksanaan, bukan perdebatan atau detail yang tidak mendesak.
- Hindari sikap mencari-cari alasan → Kadang banyak bertanya bukan karena ingin tahu, tapi karena enggan menjalankan.
- Biasakan sikap sami‘nā wa aṭa‘nā → Dengarkan dan taati dengan penuh keikhlasan.
- Jangan menunda kebaikan → Kesempatan berbuat baik tidak selalu datang dua kali.
- Waspada terhadap akibat penundaan → Menunda ketaatan bisa berujung pada kesulitan atau kerugian di kemudian hari.
- Latih diri untuk sigap dalam amal → Orang yang bersegera dalam kebaikan lebih dekat dengan keberkahan.
Penutup
Sebagai pelajaran dari kisah ini, mari kita latih diri untuk tidak menunda ketaatan dan tidak mempersulit apa yang telah Allah mudahkan. Setiap perintah yang datang adalah kesempatan untuk mendekat kepada-Nya, bukan untuk diperdebatkan atau ditunda. Semoga kita termasuk hamba yang segera berkata sami‘nā wa aṭa‘nā, bersegera dalam kebaikan, dan dijauhkan dari sikap lalai yang dapat merugikan diri sendiri.











Tinggalkan komentar