Ayat 67 mengajarkan kepada kita bahwa ketaatan kepada Allah harus dilandasi keikhlasan dan tanpa banyak membantah. Pada ayat 68 dari Surah Al-Baqarah, mengajarkan bahwa semakin membantah perintah Allah, akan semakin sulit hidup kita.
Allah menceritakan Bani Israil di dalam ayat ini mendapatkan kesulitan setelah membantah Nabi Musa a.s.. Mereka diperintah untuk menyembelih seekor sapi, namun tidak segera melaksanakan perintah, justru membantah dan bertanya hal-hal yang tidak penting. Seperti, “Sapinya seperti apa?” dan “Berapa usianya?”, yang pada akhirnya justru mempersulit mereka sendiri.
Mari kita ambil hikmah dan pelajaran penting dari penjelasan tafsir ayat ini sebagaimana berikut!
Baca juga artikel: Tafsir Al-Baqarah Ayat 66
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 68
قَالُوا۟ ٱدْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِىَ ۚ قَالَ إِنَّهُۥ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌۢ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَٱفْعَلُوا۟ مَا تُؤْمَرُونَ
Qālud’u lanā rabbaka yubayyil lanā mā hiy, qāla innahụ yaqụlu innahā baqaratul lā fāriḍuw wa lā bikr, ‘awānum baina żālik, faf’alụ mā tu`marụn
“Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian”. (QS. Al-Baqarah: 68)
Makna Kata
فَارِضٌ: Sapi betina yang sudah berumur (sudah tua).
بِكْرٌ: Sapi betina muda yang belum pernah melahirkan.
عَوَانٌۢ: Sapi berina yang berumur antara tua dan muda.
Tafsir
Al-Baqarah ayat 68 merupakan lanjutan Bani Israil kepada Nabi Musa a.s. mengenai ciri-ciri sapi betina yang harus disembelih. Allah memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi betina agar terbongkar misteri pembunuhan seorang saudagar kaya dari kalangan mereka. Namun mereka mengejek Nabi Musa a.s. dan menanyakan sesuatu yang justru akan mempersulit diri sendiri.
Ayat 68 ini adalah pertanyaan lanjut Bani Israil kepada Nabi Musa a.s. mengenai ciri-ciri sapi betina yang harus disembelih.
قَالُوا۟ ٱدْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِىَ
“Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu?”
Padahal, sapi betina yang harus disembelih tidak memiliki ciri khusus, namun, karena sifat buruk mereka, justru menanyakan hal-hal aneh.
Sebenarnya pada ayat ini Allah tidak mempersulit mereka. Ciri-ciri sapi betina tersebut adalah berumur sedang, tidak terlalu muda atau terlalu tua. Nabi Musa a.s. sudah menegaskan agar mereka segera melaksanakan perintah Allah dan tidak banyak bertanya lagi.
فَٱفْعَلُوا۟ مَا تُؤْمَرُونَ
“Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian!”
Peringatan Nabi Musa a.s. ini bertujuan agar Allah tidak mempersulit Bani Israil karena penentangan dan pertanyaan aneh mereka.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَسْـَٔلُوا۟ عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu.” (QS. Al-Ma’idah: 101)
Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 68
Beriktu ini hikmah-hikmah pelajaran hidup dari Surah Al-Baqarah ayat 68 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:
- Taat kepada Allah harus ikhlas dan tanpa banyak membantah.
- Jangan mempersulit diri dengan pertanyaan yang tidak perlu.
- Segera lakukan perintah Allah, jangan ditunda.
- Bertanya boleh, tapi jangan untuk membantah atau memperumit.
- Allah tidak mempersulit, manusialah yang sering membuatnya sulit.
- Ambil pelajaran dari kisah Bani Israil agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
Penutup
Sebagai penutup, kisah dalam Surah Al-Baqarah ayat 68 mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah seharusnya dijalankan dengan sikap ikhlas, sederhana, dan tanpa banyak membantah. Apa yang tampak mudah bisa menjadi sulit ketika manusia sendiri memperumitnya dengan sikap ragu, menunda, atau mempertanyakan hal-hal yang tidak perlu.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Bani Israil, sehingga lebih sigap dalam menjalankan perintah Allah, tidak berlebihan dalam bertanya, dan senantiasa memilih jalan ketaatan yang lurus. Dengan demikian, hidup akan terasa lebih ringan dan penuh keberkahan.











Tinggalkan komentar