Pernahkah kita membayangkan bagaimana akibatnya ketika suatu kaum diberi peringatan yang jelas, namun tetap melanggarnya dengan sengaja? Surah Al-Baqarah ayat 65 menghadirkan kisah tegas tentang Bani Israil yang melampaui batas perintah Allah, hingga mereka menerima hukuman yang menjadi pelajaran sepanjang zaman.
Ayat ini bukan sekadar cerita masa lalu. Lebih dari itu, Allah menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap perintah-Nya—terlebih setelah datangnya peringatan—dapat berujung pada kehinaan. Karena itu, ayat ini mengandung pesan mendalam tentang ketaatan, batasan syariat, dan konsekuensi dari sikap membangkang.
Mari kita pelajari lebih dalam makna dan tafsirnya, agar peringatan ilahi di dalamnya mampu menjaga langkah kita dari kesalahan yang sama.
Baca juga artikel: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 64
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 65
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ
Wa laqad ‘alimtumul lażīna‘tadau minkum fis-sabti faqulnā lahum kūnū qiradatan khāsi’īn.
“Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang di antara kamu yang melanggar pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina!’”
Makna Kata
{اعْتَدَوْا} (I‘tadau): Berarti “melampaui batas” atau “melanggar.” Ini menunjukkan tindakan sengaja menentang aturan Allah.
{السَّبْتِ} (As-Sabt): Hari Sabtu, hari khusus Bani Israil untuk beribadah dan tidak melakukan aktivitas tertentu, termasuk menangkap ikan.
{قِرَدَةً} (Qiradah): Kera. Dalam ayat ini menjadi simbol perubahan bentuk sebagai hukuman fisik sekaligus kehinaan moral kepada Bani Israil yang mencari ikan di hari sabtu.
{خَاسِئِينَ} (Khāsi’īn): Hina dan terusir dari kebaikan. Menunjukkan kondisi rendah, tercela, dan jauh dari kemuliaan.
Tafsir dan Penjelasan
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 65, Allah mengingatkan Bani Israil tentang suatu kaum di antara mereka yang melanggar larangan berburu ikan pada hari Sabtu. Padahal, hari itu khusus mereka beribadah dan melaksanakan ketaatan perintah-perintah Allah.
Tapi Bani Israil tidak tahan dengan godaan yang Allah ujikan kepada mereka. Ikan-ikan ketika hari sabtu banyak muncul tapi ketika hari selainnya ikan sepi tidak banyak yang bisa mereka tangkap.
وَسْـَٔلْهُمْ عَنِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلَّتِى كَانَتْ حَاضِرَةَ ٱلْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِى ٱلسَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْسُقُونَ
“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” QS. Al-A’raf: 163
Karena itu sebagian dari mereka mencari celah dengan tipu daya, memasang perangkap pada hari sabtu dan meninggalkanya untuk bisa melanjutkan ibadah.
Perilaku ini menunjukkan bahwa pelanggaran tidak selalu berbentuk penolakan terang-terangan. Kadang manusia berusaha mengakali aturan agar terlihat patuh, padahal hakikatnya tetap membangkang. Allah menegaskan bahwa tipu daya semacam ini tidak luput dari pengawasan-Nya.
Menurut penjelasan para ulama tafsir, termasuk Ibnu Katsir, hukuman perubahan menjadi kera merupakan bentuk azab yang sangat keras dan nyata. Hukuman ini bukan sekadar simbolis, melainkan menunjukkan betapa berat konsekuensi dari pelanggaran setelah datangnya larangan yang jelas.
Ayat ini juga menegaskan bahwa kehinaan bukan hanya akibat kekalahan materi, tetapi terutama akibat kerusakan moral dan spiritual. Ketika manusia menganggap ringan perintah Allah, sesungguhnya ia sedang merendahkan dirinya sendiri di hadapan Tuhan.
Bagi umat Islam, ayat ini bukan sekadar kisah historis, melainkan peringatan agar tidak mencari pembenaran atas pelanggaran dengan dalih atau rekayasa. Allah menilai kejujuran niat dan ketaatan yang tulus, bukan sekadar tampilan lahiriah.
Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 65
- Melanggar aturan Allah membawa kehinaan. Ayat ini menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap perintah Allah, terlebih dengan sengaja, akan berujung pada kerugian dan kehinaan.
- Tipu daya tidak menyelamatkan dari hukuman. Mengakali hukum bukanlah ketaatan. Allah mengetahui niat dan perbuatan manusia secara menyeluruh.
- Batasan syariat harus dihormati. Setiap aturan agama memiliki hikmah. Ketika manusia meremehkannya, ia sedang merusak keseimbangan hidupnya sendiri.
- Sejarah adalah cermin bagi umat setelahnya. Kisah Bani Israil menjadi ibrah agar umat Islam tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam bentuk berbeda.
- Ketaatan adalah kemuliaan. Sebaliknya, orang yang menjaga perintah Allah akan dijaga kehormatannya, baik di dunia maupun di akhirat.
- Hukuman Allah adalah bentuk keadilan. Azab bukanlah kezaliman, melainkan konsekuensi dari pilihan manusia yang menolak petunjuk.
Kesimpulan
Surah Al-Baqarah ayat 65 merupakan peringatan keras tentang bahaya melanggar perintah Allah dan meremehkan batasan-Nya. Kisah Bani Israil yang dihukum karena pelanggaran hari Sabtu menunjukkan bahwa ketidaktaatan, terlebih yang dibungkus tipu daya, akan membawa kehinaan.
Ayat ini mengajarkan bahwa ketaatan bukan hanya soal menjalankan perintah, tetapi juga menjaga kejujuran hati dan niat. Dengan memahami pesan ini, kita diingatkan untuk selalu berhati-hati dalam bertindak, menghormati syariat, dan menjauhi segala bentuk pelanggaran—baik terang-terangan maupun terselubung. Karena kemuliaan sejati terletak pada kepatuhan kepada Allah dan kesungguhan menjaga amanah-Nya.











Tinggalkan komentar