Hadits Lebih Baik Diam Daripada Banyak Bicara

“Diam adalah emas dan berbicara yang benar adalah permata” ternyata kata mutiara ini sangat relate dengan hadits lebih baik diam daripada banyak bicara.

Banyak bicara itu memang bagus apalagi yang diomongkan adalah hal-hal yang baik, diskusi ilmu, membantu orang atau hal baik lainnya.

Tapi jika banyak omong dalam hal buruk ini malah bikin petaka dan bahkan bisa membawanya ke neraka. Kadang orang lepas kontrol ketika terlalu banyak bicara, sampai- sampai yang keluar dari mulutnya adalah menggunjing orang.

Hadits-hadits lebih baik diam daripada banyak bicara banyak diriwayatkan oleh para sahabat walaupun dengan bahasa yang berbeda tapi maknanya sama.

Baca juga artikel tentang : Sifat wanita yang dilaknat Allah

Hadits Lebih Baik Diam Daripada Banyak Bicara

Hadits yang pertama Dari Abu Huarirah ra

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَومِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، ومَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ) رَوَاهُ اْلبُخَارِي وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa) diamlah. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan mengganggu tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendak lah memuliakan tamu.” HR. al Bukhari dan Muslim

Hadits lebih baik diam daripada banyak bicara yang ke dua adalah hadits yang panjang di kitab hadits arba’in nawawiyah no. 29 dari sahabat Mu’adz bin jabbal. Ketika itu Rasulullah saw memberikan pesan kepada Mu’adz ra dan salah satu pesannya adalah menjaga lisan (supaya tidak sembarangan berbicara).

قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ, وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلًّمُ بِهِ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Beliau saw bersabda: “Maukah aku beritahu sesuatu yang bisa menguatkan semua itu?” Aku (Mu’adz ra) menjawab: ‘Tentu, wahai Nabi Allah.’ Maka Beliau saw memegang lisannya dan bersabda: “Tahanlah (jagalah) ini!” Aku bertanya: ”Wahai Nabi Allah, apakah kita akan mendapat siksa akibat apa yang kita ucapkan?” Beliau saw bersabda: ”Alangkah sedihnya ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz, tidaklah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain disebabkan hasil panen (apa yang mereka peroleh) dari lisan-lisan mereka?” HR. At Tirmdzi, dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih

Dua hadits lebih baik diam daripada banyak bicara di atas sudah sangat jelas bahwa kita harus menjaga lisan untuk berucap yang baik, jika tidak bisa maka diam itu lebih baik. Ingat bahwa banyak manusia yang terjerumus ke dalam neraka karena tidak bisa menjaga lisannya.

Tinggalkan komentar