Adab Sedekah Sesuai Ajaran Islam

Dampak covid-19 sudah kita rasakan bersama kurang lebih 2 bulan. PHK karyawan besar-besaran, ojol sepi orderan dan ekonomi UKM menurun drastis bahkah ada yang gulung tikar. Sampai-sampai pemerintah pun kuatir bila virus bawaan Wuhan ini belum juga reda maka akan terjadi degradasi ekonomi nasional dan krisis moneter tahun 1997 kemungkinan akan terjadi kembal.

Allah SWT ketika menentukan suatu takdir tak mungkin tanpa alasan, pasti banyak sekali hikmah dibalik semua itu. Beberapa ustadz sudah menyampaikan hikmah-hikmah wabah virus ini. Kebersihan semakin diperhatikan, polusi udara semakin berkurang dan para orang tua yang jarang berkumpul dengan keluarga akhirnya mendapat banyak waktu untuk berkumpul dan mendidik anak-anaknya.

Satu lagi hikmah yang banyak menyentuh hati kita, yaitu semakin terketuknya para dermanwan untuk berbagi membantu orang-orang yang terdampak corona. Entah dengan berbagi masker, sembako hingga uang. Masih banyak lagi hikmah yang belum kita ketahui.

Ngomongin tentang berbagi atau dalam agama Islam bisa disebut dengan zakat, infaq dan sedekah (ketiganya ada perbedaan tapi intinya sama yaitu mengeluarkan harta dan diberikan kepada yang berhak) jika ingin jelasnya silakan klik di sini.

Okay biar tidak ribet saya menjelaskannya kita pakai istilah umumnya aja ya “SEDEKAH”. Amalan ini termasuk salah satu penghasil pahala yang besar, tidak lagi 1 dibalas dengan 1 melainkan bisa berlipat ganda hingga puluhan sampai ratusan dan tak terhingga.

Janji pahala melimpah itu sudah pasti, tapi cuma kita perlu ilmu cara untuk mendapatkannya. Analoginya seperti ini kawan, jika kamu ingin mendapat gaji dari suatu perusahaan maka ada syarat-syarat yang harus kamu penuhi.

Seperti mendaftar sebagi pegawainya, jika diterima maka kamu harus mematuhi aturan-aturan yang ada dan kamu wajib bekerja dengan giat dan bersugguh-sungguh. Baru gaji bulanan akan kamu dapat sesuai janji. Proses seperti itu juga berlaku dalam agama ini, harus serius beramal pahalapun akan datang.

Sering sekali kita mendengar dari orang-orang bahwa sedekah itu yang penting ikhlas. Iya memang benar sekali bahwa keikhlasan itu adalah pembukan pintu pahala tapi mekti harus diperhatikan aspek-aspek lain untuk menjadi sebaik-baiknya amalan. Bukankah seperti itu, Allah ajarkan kita untuk beramal harus sungguh-sungguh dan disempurnakan dengan baik.

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلً

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Al-Mulk: 2)

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ، قَالَ ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

Dari Abu Al Asy’ats dari Syaddad bin Aus dia berkata, “Dua perkara yang selalu saya ingat dari Rasulullah saw, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya selalu bersikap baik terhadap setiap sesuatu, oleh karena itu apabila salah seorang kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang terbaik. Dan hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan mata pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Sudah faham kan bro! Ikhlas sih ikhlas tapi jangan jadikan kata itu sebagai pelarian jiwa pelit kamu. Okay dari pada panjang lebar saya jelaskan seputar masalah ini lebih baik saya jelaskan saja adab-adab sedekah supaya kedepan pahala sedekahnya berbagi kita semakin banyak dan sempurna.

Adab-Adab Sedekah Sesuai Ajaran Islam

Haah… adab! Eeiiit jangan anggap remeh tentang adab, mayoritas ulama sepakat bahwa adab/akhlaq didahulukan sebelum ilmu lainnya. Nabi Muhammad saw diutus kepada umat manusia dengan tujuan untuk mengajari mereka akhlaq yang mulia. Jadi menurut saya penting sekali kita belajar akhlaq sebagai penyempurna ibadah-ibadah kita yang lain.

Adab Sedekah Sesuai Ajaran Islam

Beberapa hari kemarin viral ada youtuber Perdian ****** bikin konten berbagi sasarannya adalah pada waria-waria di sekitar kotanya. Ternyata konten tersebut hanyalah PRANK, dia bersama teamnya membagikan batu dan sampah kepada para waria itu. Nah ini yang jadi masalah dan menjamur di kalangan anak muda “amoral” demi like dan ketenaran di dunia maya.

Mumpung di masa seperti ini sedekah menjadi salah satu amalan yang utama maka mimin edukasi soal adab sedekah yang sesuai ajaran Islam supaya sedekah kita afdhol dan berkah, insyallah. Jangan sampai terulang kembali kejadian seperti kontennya anak micin si Perdian. berikut ini bagaimana cara kita berakhlaq dalam sedekah:

1. Niat ikhlas mencari ridho Allah SWT dan takwa kepadaNya

Niat adalah komponen penting dari semua amal ibadah manusia. Karena setiap perbuatan pasti mempunyai niat dan niat itu ada yang benar dan ada yang salah. Seorang muslim wajib meluruskan niat untuk Allah bukan untuk yang lain. Jika bersedekah maka harus benar-benar niatkan sedekah itu untuk mencari ridho Allah.

Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ مانوي . فمن كانت هجرته الي الله ورسوله فهجرته الي الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلي ما هاجر إليه

“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari)

2. Sedekah dari barang yang halal

Sifat orang bertakwa adalah orang menginfaqkan harta yang telah dikaruniakan oleh Allah dari jalan yang halal. Sesuatu yang haram sudah pasti tidak boleh dimakan sendiri apalagi diberikan orang lain.

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)

Dalam riwayat hadits disebutkan bahwa Allah hanya menerima yang baik-baik (halal) dan menolak yang haram. Sebutir korma hasil kerja halal yang disedekahkan akan diambil oleh Allah pahalanya dengan tangan kananNya (kiasan bahwa Allah SWT sangat suka dan menerima pahalanya dengan baik).

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik).“ (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ

“Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu” (HR. Muslim)

Sesuatu yang haram sudah pasti tidak boleh untuk diri sendiri apalagi diberikan kepada yang lain. Maka sedekah yang sesuai ajaran Islam adalah memberikan sesuatu yang halal kepada yang lain.

3. Sedekah dari barang yang disukai

Sudah sewajarnya barang yang akan diberikan kepada orang lain itu harus sesuatu yang kita suka, atau minimal kita sendiri masih mau untuk menggunakan atau memakannya. Jangan sampai barang yang dibagikan sesuatu yang menjijikkan dan kita sendiripun menolaknya.

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا۟ ٱلْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِـَٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغْمِضُوا۟ فِيهِ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Jadi Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan bersedekah dengan sesuatu yang tidak layak. Beliau selalu memberikan sesuatu yang baik kepada orang lain. Karena dalam ajaran Islam besedekah harus dengan barang yang disukai supaya diterima oleh Allah.

4. Boleh dengan cara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi

Sedekah secara rahasia atau terang-terangan juga sesuai ajaran Islam, asal niat dan caranya benar sesuai tuntunan Rasulullah saw. Menyembunyikan kebaikan dari orang lain memang sangat bagus dan menghindarkan dari rasa riya’. Menampakkan kebaikan kepada orang lain itu juga bagus dengan tujuannya syiar supaya banyak orang yang meniru kebaikan itu.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ” (QS. Al-Baqarah: 274)

5. Jangan iringi dengan mengungkit kebaikan atau gangguan

Sangat tidak pantas dan termasuk perbuatan dosa, seorang mengungkit-ungkit kebaikannya kepada orang yang dibantu. Atau dia memanfaatkan rasa sungkan orang yang telah ia bantu untuk ditindas atau diperbudak. Hal itu akan membatalkan semua pahala sedekah yang ia berikan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al Baqarah: 264)

Adab Sedekah Sesuai Ajaran Islam

Ibnu Katsir menjelaskan, “Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa sedekah menjadi sia-sia hanya karena si pemberi mengungkit-ungkit sedekah yang telah ia beri dan ia menyakiti yang menerima. Seseorang tidak mendapatkan pahala sedekah akibat melakukan dua kesalahan tersebut.”

Dalam hadits disebutkan pula,

عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ ».

“Dari Abu Dzar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada tiga orang yang pada hari kiamat tidak akan diajak bicara, tidak dilihat dan tidak disucikan serta baginya siksa yang pedih.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “Mereka sengsara dan merugi. Lantas siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Lelaki yang berpakaian isbal (menjulurkan celana di bawah mata kaki), orang yang mengungkit-ungkit kebaikannya setelah memberi, serta orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah yang palsu.” (HR. Muslim)

Sangat tidak pantas bagi seorang muslim jika dia bersedekah lalu dia mengungkit dan menyakiti orang yang pernah ia sedekahi. Karena sedekah yang benar sesuai ajaran Islam adalah yang ikhlas dan bermanfaat kepada yang lain.

Wallahua’lam bishowab, Semoga bermanfaat, Jangan lupa share ke teman dan keluarga-keluarga kamu.

Tinggalkan komentar