Hikmah-Hikmah Dari Penyakit Dalam Agama Islam

Semoga Artikel hikmah-hikmah dari penyakit ini bisa mengobati dan memotivasi sobat muslim semua. Selamat membaca!

Sejak awal kemunculannya di Tiongkok pada bulan Desember 2019 langsung bikin ulah hingga maret 2020 juga belum berhenti. Dari hari ke hari dia berhasil berkembang dan berkeliling dunia mulai dari ujung timur sampai barat. Beberapa negara maju bisa diobrak-abrik, mulai dari kesehatan, ekonomi dan pendidikan.

Kita bisa lihat negara-negara maju (Amerika dan Eropa) mereka semua kualahan mengendalikannya. Sampai-sampai pagelaran olahraga pun ikut jadi korban, Liga Champion, Inggri, Itali, Spanyol hingga Copa Amerika, dia bikin tutup sementara.

Tubuhnya kecil, tak berkaki atau kepala dan tak memiliki kecerdasan otak seperti manusia normal. Sekarang ia dinobatakan sebagai Pendemi Dunia oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mantap kali gaes, bukan kaleng-kaleng ini. Kalian sudah pasti tahu lah siapa dia? CORONA/COVID-19 widiiih nama yang fenomenal. Ketika mendengar orang-orang pasti langsung pada takut dan berusaha menghidar.

Memang wabah virus sangat mengkhawatirkan, terutama penyebarannya. Sebab bila tidak dicegah maka akan menimbulkan peningkatan penderita sangat tajam. Rumah sakit tak mampu menampung, tenaga medis kuwalahan dan alat-alat kesehatan yang kurang memadai.

Hal ini akan berakibat pada gagalnya penanganan penderita yang berujung pada kematian. Seperti kasus di Italia, Pemerintah yang lamban dalam menentukan kebijakan dan warga yang cenderung menyepelekan virus ini.

Indonesia termasuk negara yang menjadi destinasi wisata covid-19 dan warga Indonesia sudah banyak yang positif menjadi penginapan corona. Tercatat tanggal 29 Maret 2020 sudah mencapai total 1284 positif di seluruh Nusantara, paling banyak Jakarta dengan jumlah 675.

Data pasien positif itu yang sudah terdata oleh pemerintah, kemungkinan besar masih banyak lagi yang belum diketahui. Pemeteaan zona merah pun sudah bertambah di beberapa provinsi. Sungguh memprihatinkan dan mengkhawatirkan, apalagi persiapan medis di negeri ini belum memadai bila ada lunjakan lagi yang lebih tajam.

Kawan-kawan semua terutama yang Muslim momen seperti ini jangan sampai kita lupa kepada Tuhan. Tidak dipungkiri pandemi ini harus ditangai dengan serius, tapi semua itu tiada lain atas kuasa Allah. Ia SWT yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya, tak ada penolong yang paling hebat kecuali Ar-Rahim Yang merajai segalanya. Dalam kasus ini jika Allah menciptakan rasa sakit pasti ada penyembuhnya dan di setiap penyakit ada hikmah yang besar.

Jangan terlalu bersedih dengan wabah ini, Allah tahu apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya, Ia telah siapkan balasan yang besar bagi yang mau bersabar dan terus taat kepadaNya.

Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui hikmah dari sakit untun menjadi manusia yang istiqomah dalam jalan yang lurus dan tak mudah mengeluh, sedih dan syu’udon kepada Yang Kuasa. Mungkin ini sedikit angis segar bagi kita semua yang merasakan terancam dengan makhluk Allah bernama virus corona.

Saudaraku yang sedang sakit

Semoga Allah menyembuhkan Anda dan menjadikan Anda sebagai kekasihNya, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah melimpahkan nikmatNya kepada Anda baik secara lahir maupun batin. Semoga pula Anda termasuk golongan yang apabila mendapatkan kenikmatan bersyukur, apabila mendapat ujian bersabar, dan jika melakukan dosa segera beristighfar. Selanjutnya, manusia tidak akan terlepas dari dua keadaan:

  1. Nikmat dari Allah yang tidak terhitung banyaknya yang harus dipertahankan dengan bersyukur.
  2. Ujian-ujian dari Allah Subhannahu wa Ta’ala, seperti sakit, rasa takut lapar dan sebagainya. Dalam hal ini yang harus dilakukan adalah bersabar.

Sabar Ada Hikmah-Hikmah Dari Penyakitmu

Menahan diri dari rasa kesal terhadap takdir, menahan lisan dari mengeluh kepada sesama makhluk yang lemah, dan menjaga untuk tidak perbuatan maksiat, menyakiti diri, merusak barang-barang yang lain.

Setiap muslim wajib bersabar ketika tertimpa suatu musibah. Namun tidak mengapa bagi orang sakit memberitahukan sakitnya tanpa mengeluh berlebihan. Sering-sering berhusnudzon kepada Allah, misalnya dengan mengatakan: “Ini telah ditakdirkan olehNya, dan Ia melakukan apa yang dikehendaki. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan.

“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditentukan oleh Allah bagi kami.” (At-Taubah: 51)

Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi saw yang memerintahkan sabar serta menerangkan keutamaan dan pahalanya.

Firman Allah, artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya-lah kami kembali’, mereka itulah yang mendapat kesabaran yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)

Sabda Rasulullah saw:

“Dan barangsiapa berusaha sabar, Allah akan menjadikannya bersabar, dan tidak ada seorang pun yang mendapatkan karunia (dari Allah) yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (Muttafaq ‘Alaih)

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, semua urusan-nya baik baginya dan hal ini tidak dimiliki siapa pun kecuali orang mukmin, jika dia mendapatkan kebahagiaan bersyukur dan itu baik baginya, dan jika dia tertimpa musibah bersabar dan itu baik baginya”. (HR. Muslim)

“Tidaklah rasa lelah, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan dan duka yang menimpa seorang muslim hingga duri yang menusuknya kecuali Allah menghapuskan dosa-dosanya karena hal-hal tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hambaNya Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia, dan apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hambaNya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dan di-hasan-kannya)

“Sungguh besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan-cobaan; dan sungguh Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum diujiNya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan meng-hasan-kannya)

“Senantiasa cobaan menimpa seorang mukmin baik pada dirinya, anaknya ataupun hartanya sehingga dia memjumpai Allah dalam keadaan bersih dari dosa.”

Ikhtiyar Berobat

Selain bersabar atas penyakit yang diderita masih ada yang harus dilakukan manusia. Yaitu berobat sebagai bentuk usaha atau ikhtiyar untuk menggapai kesembuhan yang telah Allah janjikan. Berobat bukanlah melawan takdir atau bentuk tidak terimah atas kehendak Allah, melainkan termasuk anjuran Islam sebagimana telah dianjurkan oleh Rasulullah saw untuk berobat dengan cara dan obat-obatan yang dibolehkan, Rasulullah saw bersabda:

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan pula penangkal (obatnya), maka berobatlah kalian.” (HR. Al-Hakim dan Ibnu Hibban dan men-shahih-kannya)

Tidak dibenarkan berobat dengan cara dan sesuatu yang haram, seperti berobat kepada dukun, atau berobat dengan arak, darah, ular, daging monyet ataupun hal-hal lain yang diharamkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhanmu pada apa-apa yang diharamkan atasmu.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad shahih)

“Barangsiapa mendatangi seorang dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw.” (HR. Abu Dawud)

Do’a

Setelah sabar dan ikhtiyar sudah dilakukan maka disempurnakan dengan do’a kepada Allah. Dialah yang Maha Kuasa atas segalanya, sesuatu yang seakan mustahil bagi manusia tetap mudah bagiNya dan do’a adalah senjata orang Islam. Maka Allah SWT memerintahkan hamba-hambaNya senantiasa berdo’a. Firman Allah: “Dan Tuhanmu berfirman:

“Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuper-kenankan.” (Al-Mukmin: 60)

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku .” (Asy- Syu’ara: 80)

Nabi saw biasanya meletakkan tangannya pada tubuh orang yang sakit seraya berdo’a “Ya Allah Tuhan segenap manusia, hilangkanlah sakit dan sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali dengan penyembuhanMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (Muttafaq ‘Alaih)

Beliau juga mengajarkan kepada sahabatnya yang sakit untuk berdo’a, seraya bersabda: “Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan ucapkan: ‘Bismillah’ Tiga kali, kemudian ucapkan ‘A’udzu bi ‘izzatillahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadzir’u (Aku berlindung kepada keagungan dan kekuasaan Allah dari keburukan yang aku dapati dan aku takutkan) sebanyak tujuh kali.” (HR. Muslim)

Sahabat tersebut berkata: “Maka aku lakukan (nasihat beliau) dan Allah pun menghilangkan penyakit yang selama ini aku derita”.

Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Orang Sakit

Seorang muslim yang sedang sakit hendaknya bersangka baik kepada Allah, bahwa Allah akan mengasihinya dan tidak menyiksanya. Rasulullah saw bersabda:”Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim)

  1. Berada antara takut dan penuh harap, takut pada siksa Allah dan berharap pada keluasan rahmatNya, Rasulullah bersabda:”Tidaklah menyatu (rasa takut dan harapan) dalam hati seorang hamba pada saat seperti ini (sakit) kecuali Allah mengabulkan harapannya dan memberikan kepadanya rasa aman dari apa yang ditakutkannya.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad hasan)
  2. Tidak mengharapkan kematian meskipun penyakitnya sangat parah. Namun kalau terpaksa hendaknya berdo’a: “Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku. Jadikanlah kehidupan sebagai penambah segala kebaikan bagiku dan kematian sebagai istirahatku dari segala keburuk-an.” (Hadits Anas bin Malik-HR. Al-Bukhari dan Muslim)
  3. Jika ada hak-hak orang lain yang menjadi tang-gungannya, baik berupa hutang, amanat atau lainnya hendak-nya bergegas mengembalikan atau menunaikannya
  4. Dibenarkan untuk mewasiatkan sebagian hartanya untuk hal-hal yang baik, dan tidak dibenarkan lebih dari sepertiga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang wasiat: “Sepertiga, dan sepertiga itu jumlah yang besar.” (Muttafaq ‘Alaih)
  5. Wasiat yang dibuat tidak boleh bersifat merugikan, seperti berwasiat tidak memberikan harta peninggalannya kepada sebagian ahli warisnya, atau mewasiatkan sebagian hartanya kepada salah seorang ahli waris, karena tidak dibenarkan mewasiatkan harta kepada ahli waris, sebab masing-masing dari mereka telah mendapat bagian waris sebagaimana yang ditentukan syari’at.
  6. Hendaknya orang yang sakit selalu menjaga shalat, menghindarkan diri dari apa-apa yang najis dan bersabar dalam beratnya melakukan hal tersebut.
  7. Wajib bagi setiap muslim, terutama yang sedang sakit untuk bertobat kepada Allah dari segala dosa.
  8. Hendaknya memperbanyak membaca Al-Qur’an,dzikrullah, do’a, istighfar, bertasbih dan bertahlil.

Manfaat Menjenguk Orang Sakit

Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan mulia, di dalamnya terdapat keutamaan yang sangat agung, pahala yang sangat besar dan ia adalah salah satu hak setiap muslim terhadap muslim lainnya. (HR. Muslim)

Hikmah-Hikmah Dari Penyakit

Rasulullah bersabda: “Apabila seorang laki-laki menjenguk saudara muslimnya (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Sorga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras.

Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih)

Mengunjungi dan membesuk orang sakit merupakan kewajiban setiap muslim, utamanya orang yang sangat jelas hubungannya dengan dirinya, seperti kerabat dekat, tetangga, saudara senasab, sahabat dan yang semisalnya. Menjenguk orang sakit adalah di antara amal shalih yang paling utama yang dapat mendekatkan kita kepada Allah, kepada ampunan, rahmat dan SorgaNya.

Hendaknya ketika membesuk jangan lupa mendoakan kepada orang yang sakit: “Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, Insya Allah.” (HR. Al-Bukhari)

Hikmah-Hikmah Dari Penyakit yang Menimpa

Orang yang sedang ditimpa penyakit tidak perlu dicekam rasa takut selama ia mentauhidkan Allah dan menjaga shalatnya. Bahkan, meskipun di masa sehatnya ia banyak berkubang dalam dosa dan maksiat, karena Allah itu Maha Penerima taubat sebelum ruh seorang hamba sampai di kerongkongan. Dan sesungguhnya di balik sakit itu terdapat hikmah dan pelajaran bagi siapa saja yang mau memikirkan-nya, di antaranya adalah:

1. Mendidik dan menyucikan jiwa dari keburukan.Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS asy Syura: 30)

Dalam ayat ini terdapat kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah merupakan hukuman atas dosa-dosa kita. Imam al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.”

Dalam hadits lain beliau bersabda: “Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat.Itu merupakan balasan dari sakit yang diderita sewaktu di dunia, sebab kegetiran hidup yang dirasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat dan sebaliknya.

Nabi saw bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Dan dalam hadits lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR .Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan)

At Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir secara marfu’, ”Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dicabik-cabik ketika di dunia karena iri melihat pahala orang-orang yang tertimpa cobaan.”

3. Allah dekat dengan orang sakit.Dalam hadits qudsi Allah berfirman: ”Wahai manusia, si fulan hamba-Ku sakit dan engkau tidak membesuknya. Ingatlah seandainya engkau membesuknya niscaya engkau mendapati-Ku di sisinya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

4. Sebagai parameter kesabaran seorang hamba.Sebagaimana dituturkan, bahwa kalau seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya, namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.

Anas ra meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan ditulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha.

Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah maka dia akan ditulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba maka setiap ketetapan Allah yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.

Rasulullah saw bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

5. Dapat memurnikan tauhid dan menautkan hati kepada Allah.Wahab bin Munabbih berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.”

Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah berfirman, artinya, “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita.

Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah saja sebagiamana dilakukan oleh Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam yang berdoa,

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al Anbiyaa :83)

Hikmah-hikmah dari penyakit

6. Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya.Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah menjauhkan diri dari kesesatan.

Amat banyak hamba yang setelah di timpa sakit ia mau memulai bertanya persoalan agamanya, mulai mengerjakan shalat dan berbuat kebaikan, yang kesemua itu tak pernah ia lakukan sebelum menderita sakit. Maka sakit yang dapat memunculkan ketaatan-ketaatan pada hakekatnya merupakan kenikmatan baginya.

7. Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala.Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya.

Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap,dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Dia tak akan mampu menguasai kematian, terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa.

Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

8. Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah.Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi pada penderita sakit yang telah sekian lama berobat kesana kemari namun tak kunjung sembuh.

Maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata, sehingga ia mengadu: “Ya Allah tak ada lagi harapan untuk sembuhnya penyakit ini kecuali hanya kepada-Mu.”

Dan banyak terbukti ketika seseorang dalam keadaan kritis, ketika para dokter sudah angkat tangan namun dengan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah ia dapat sembuh dan sehat kembali. Dan ibadah raja’ ini tak akan bisa terwujud dengan utuh dan sempurna jika seseorang tidak dalam keadaan kritis.

9. Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan.Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah n bersabda, ”Barang siapa yang dikehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al Bukhari). Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

10. Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit.Meskipun ia tidak lagi dapat melakukannya atau dapat melakukan namun tidak dengan sempurna.

Hal ini dikarenakan seandainya ia tidak terhalang sakit tentu ia akan tetap melakukan kebajikan tersebut, maka sakinya tidaklah menghalangi pahala meskipun menghalanginya untuk melakukan amalan. Hal ini akan terus berlanjut selagi dia (orang yang sakit) masih dalam niat atau janji untuk terus melakukan kebaikan tersebut.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah saw, ”Tidak seorangpun yang ditimpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintah-kan kepada para malaikat untuk menjaganya”

Allah berfirman kepada malaikat itu, “Tulislah untuk hambaKu siang dan malam amal shaleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian denganKu.”

11. Sakit dapat menghantarkan ke manzilah (kedudukan) tertentu di Surga.Terkadang seorang hamba memiliki manzilah di Surga, akan tetapi amalnya tidak dapat mengantarkannya ke sana maka Allah menimpakan kepadanya berbagai ujian secara bertubi-tubi sehingga sampailah ia kepada manzilah tadi, sebagaimana dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Hibban dari Abu Hurairah.

12. Dengan sakit akan diketahui besarnya makna sehat.Jika seseorang selalu dalam keadaan sehat maka ia tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa cobaan dan kesusahan, dan ia tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang ia peroleh. Maka ketika seorang hamba sakit, ia ingin agar bisa segera pulih sebagaimana kondisi semula ketika sehat, sebab setelah sakit itulah ia akan tahu apa artinya sehat.

Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang sakit maka tentu masih ada orang lain yang lebih parah, dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi. Hendaknya ia melihat sakit yang diderita dengan nikmat yang telah diterima dan dengan memikirkan faedah dan manfaat dari sakitnya.

Dalam urusan agama seseorang harus memandang yang diatasnya agar tidak merasa bahwa dirinyalah orang yang terbaik, sedang dalam urusan dunia ia harus memandang orang yang ada di bawahnya agar menimbulkan rasa syukur dan melahirkan pujian kepada Allah.

13. Bagi seorang hamba (muslim) sakit merupakan rahmat bukan siksa.Firman Allah, artinya. “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. an Nisaa:147)

Tinggalkan komentar