Pedang Mata Terbalik Kensin Penuh Hikmah

Berkali-kali saya membahas tentang manga favorit saya di masa lalu, Rurouni Kenshin, kisah samurai pembantai yang dalam perjalanan “hijrah” menebus dosanya. Darah yang sudah dia tumpahkan, menghantui dirinya hingga dia goyah dengan jalan yang dia pilih sebagai pembantai, hingga dia mulai mencari jalan lain yang berbeda.

Kenshin dikenal dengan sikap cuek, urakan, terlihat lemah dan ceroboh, dan punya ciri khas yang berbeda dengan samurai lain, Ia membawa pedang sakabato atau pedang mata tajam terbalik. Artinya, ketika duel, sisi tajamnya menghadap pada dirinya, dan sisi tumpulnya dihadapkan pada lawannya. Arti jelasnya, pemilik pedang ini ingin damai, bertarung hanya bila terpaksa.
 
Sebagai Muslim, saya mendapat lebih banyak insight dari pedang itu, yang dikenal dengan sakabato. Ternyata begitu pula konsep Muslim terhadap dirinya dan orang lain. Seorang Muslim hanya menghadapkan “bagian tajam” dari dirinya untuk dirinya sendiri, bukan orang lain. Tegas dan keras pada diri sendiri, sementara selalu lembut pada lainnya. Terutama lisan, dia bisa jadi berkata “Goblok” pada diri sendiri, tapi tak pernah melisankan itu untuk orang lain.
 
Namun, berapa banyak sekarang yang kita lihat seperti itu?
 
Bagi pendakwah, dakwah itu jalan cinta. Seperti pedang terbalik tadi, ia lebih suka dirinya yang sakit dan berdarah, bukan yang didakwahinya yang sakit dan berdarah . Beda lagi dengan manusia kebanyakan, yang senang bila bisa menyakiti orang dengan lisan atau tulisannya. Mau menyakiti, tapi tak boleh disakiti, sebab memang itu bukan cinta. 
 
Namun mereka yang berdakwah, seperti membawa pedang mata terbalik, boleh bertarung, tapi tak boleh melukai, bisa jadi terluka, tapi tak boleh balas melukai, sebab dakwah itu cinta  Bicara tentang pedang, ia terbuat dari besi, dan Allah sampaikan di dalam Al-Qur’an, Allah turunkan besi bukan untuk membunuh, tapi untuk menolong agama Allah Kenshin, samurai yang muak dengan maksiat, meniti jalan hijrah dengan prinsipnya, pedang terbalik.
 
Kenshin itu hanya fiksi saja, tak ada kenyataannya Tapi mereka yang berdakwah itu real, konsep Muslim yang diajarkan Rasulullah itu juga real. Jalan hijrah itu takkan pernah usai, kapan ikutan “bawa sakabato”?

Tinggalkan komentar