Mendidik Tanpa Kekerasan Dengan Qudwatun Hasanah

Hai para guru bagaimana kabarnya? Pasti lagi bahagia nih soalnya awal bulan, gajian masih anget donk. Semoga berkah, lancar rezekinya dan sehat selalu deh untuk pada guru seindonesia. Profesi pendidik adalah suatu hal yang sangat mulia, Dituntut mendidik tanpa kekerasan mengajari anak untuk menjadi orang berguna untuk agama, keluarga dan negara.

Tapi sekarang bisa dikata kewibawaan seorang guru semakin hilang. Murid tak lagi hormat pada mereka, orang tua pun juga banyak membela anak hingga berujung luka atau penjara. Suka-duka para pengajar zaman now, dituntut untuk memberikan bimbingan yang maksimal tanpa ada kekerasan gajipun minimal. yang sabar!

Mendidik anak tanpa kekerasan itu memang bagus, tapi bagaimana caranya? Padahal kita lihat kebanyakan kids zaman now nakalnya luar biasa. Jika tidak ada tindakan yang keras nanti anak semakin nerunyam (kebablasan). Eeeeiit tunggu dulu, kita diajarkan untuk tegas bukan keras kawan!

Tegas dan keras memang beda-beda tipis, tapi keduanya memiliki perbedaan. Tegas itu adalah tindakan yang sudah memiliki landasan hukum atau kesepakatan, sedangkan keras bisa ada dan tanpa landasan hukum atau kesepakatan. Untuk itu ketegasan memang sangat diperlukan dalam pendidikan, entah itu dengan model keras atau lembut tergantung situasi dan kondisi.

Yang terpenting adalah memperkenalkan dan memberikan contoh yang baik kepada anak. Setelah mereka mengenal mana yang baik dan mana yang buruk baru kita perkenalkan mereka dengan konsekwensi dari prilaku atau perbuatan mereka. Inilah metode pendidikan yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada anak.

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Perintahkan kepada anak-anakmu untuk shalat ketika mereka menginjak usia tujuh tahun. Dan pukullah mereka ketika menginjak sepuluh tahun. Pisahkan tempat tidur mereka. (HR. Al-Hakim dan Abu Daud)

Islam mengajarkan kepada orang tua untuk mengajak anak yang masih umur 7 tahun ke bawah ke masjid. Untuk memperkenalkan kepada mereka apa itu shalat dan kenapa harus melakukannya.

Sangat bagus apabila anak itu diajak rutin 5 kali sehari untuk ikut shalat jama’ah di masjid. Bisa dibayangkan karakter seperti apa bila anak sudah diperkenalkan dengan ibadah sejak kecil dan rutin tiap hari.

“Nganu… nanti kalau anak usia segitu di bawa ke masjid malah bikin kisruh, rame atau malah memadhoroti yang lain dengan ompol atau pup.”

Logikanya jika ada pikiran seperti itu semestinya orang tua sudah menyiapkan antisipasinya. Jadi segalanya harus disiapkan di rumah sehingga ketika di masjid apapun yang terjadi bisa diatasi dengan cepat. Jika anak menangis gendonglah dia, tak akan membatalkan shalat. Nabi Muhammad saw pun juga pernah mencontohkan hal ini.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِي قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَؤُمُّ النَّاسَ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي الْعَاصِ وَهِيَ ابْنَةُ زَيْنَبَ بِنْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَاتِقِهِ فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا وَإِذَا رَفَعَ مِنَ السُّجُوْدِ أَعَادَهَا

Dari Abu Qatâdah al-Anshari Radhiyallahu anhu , ia berkata : saya melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami para Sahabat sambil menggendong Umamah bin Abi al-Ash, anak Zaenab puteri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di atas bahunya, maka apabila ruku Beliau meletakkannya dan apabila selesai sujud Beliau menggendongnya kembali.

Setelah anak tahu baik dan buruk, jangan lupa untuk memperkenalkan dengan konsekwensi dari masing-masing perbuatan. Ini akan menjadikan anak lebih mendalami apa yang sedang ia lakukan, dan benar-benar memilih prilaku paling menguntungkannya.

Sekali lagi jangan gunakan tindakan fisik untuk pelanggaran mereka, gunakan hukuman yang mendidik seperti menyapu, mengepel atau yang lain sekiranya membangun karakter berakhlaq mulia.

“Nah sekarang kan anak SMP mereka sudah gede rata-rata 12 tahun, bisa dibilang mereka sudah terlambat untuk diberi pendidikan model umur 10 tahun ke bawah.”

Ingan mengajak dan memberikan qudwatuh hasanah (contoh yang baik) tidak untuk anak dibawah 10 tahun saja, melainkan untuk semua kalangan yang. Jadi tetap berikan pengertian dan contoh kepada mereka sembari kita tekankan konsekwensi yang akan mereka dapat bila melanggar peraturan. Mereka butuh figur yang dicontoh kebaikannya bukan sosok yang ditakuti.

Jika figur panutan yang baik sudah melekat di hati mereka maka guru bisa mengarahkan dan mendidik anak didiknya dengan mudah walau tanpa kekerasan.

Tinggalkan komentar