Malaikat Mendo’akan Orang Beriman Dan Memintakan Ampun

Entah ini ilham dari Allah atau apa kok kepingin baca-baca kitab kuning seperti waktu mondok dulu. Tangan ini langsung mengambil kitab Majmu’atul Fatawa jilid pertama karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Akhirnya ketemulah dengan masalah Tawasul Bab Malaikat mendo’akan orang beriman.

Menurut admin kayaknya menarik ini untuk dibaca. Karena sejak dulu hingga sekarang masih saja diperbincangkan oleh sodara-sodara kita, ada yang menganggapnya bid’ah, syirik dan kafir ada juga yang menganggap itu boleh dan dapat pahala.

Admin langsung pilih sub bab dari tawasul itu tentang Malaikat mendo’akan orang-orang beriman dan memintakan ampun untuk mereka. Imam Ibnu Taimiyah mengutip kalam Allah;

 وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَن فِى ٱلْأَرْضِ ۗ أَلَآ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ. وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَآ أَنتَ عَلَيْهِم بِوَكِيلٍۢ

“Dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka; dan kamu (ya Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka.” QS. Asy-Syura; 5-6

Sebelum admin jelasin korelasi ayat ini dengan pembahasan tawasul, harus lihat dulu tafsir ayat ini. Dalam kita Tafsir Ibnu Katsir bahwa ayat 5 surat Asy-Syura semakna dengan ayat Al-Mu’min ayat 7;

ٱلَّذِينَ يَحْمِلُونَ ٱلْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُۥ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِۦ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَىْءٍۢ رَّحْمَةًۭ وَعِلْمًۭا فَٱغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا۟ وَٱتَّبَعُوا۟ سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ ٱلْجَحِيمِ

“(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.”

Allah ta’ala telah menugaskan para malaikat yang terdekat agar mendo’akan orang-orang beriman tanpa diketahui oleh mereka dan senantiasa mengaminkan do’a-do’a orang mu’min. Tidak hanya mendo’akan dan mengaminkan do’a saja, malaikat juga memintakan ampun kepada Allah bila ada seorang hamba yang berdosa lalu tobat dan tidak mengulangi lagi.

Itu penjelasan singkat tafsirnya. Sekarang apa kaitan dengan tawasul?

Baca juga artikel tawasul dengan amal shalih

Menurut Ibnu Taimiyah, tanpa diminta oleh siapapun malaikat memang telah diberi izin oleh Allah untuk memintakan ampun kepada orang mu’min. seperti yang telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw atau nabi-nabi yang lain dan para shalihin berdo’a dan memberi syafa’at kepada orang yang terpilih dari umatnya, dan semua itu telah diizinkan oleh Allah tanpa harus diminta oleh siapapun.

Jadi meminta do’a (bertawasul) kepada Nabi atau orang shalih yang telah wafat tidak disyariatkan sebagaimana tidak disyariatkannya bertawasul kepada para malaikat. Adapun jika para nabi dan orang shalih akan memberi syafa’at kepada yang lain itu ada 2 alasanya:

  1. Allah telah memberi izin kepada mereka. Nabi Muhammad saw pasti akan memberikan syafa’at kepada umatnya walaupun tanpa diminta karena Allah telah mengizinkan beliau saw. Jika Allah tak memberikan wewenang, Nabi saw tak akan bisa melakukannya, maka percuma saja orang yang merengek-rengek minta syafa’at.
  2. Bertawasul kepada nabi atau orang sholih bisa dilakukan ketika mereka masih hidup dan hadir di sekelilingnya. Telah banyak hadits-hadits yang menceriakan bahwa para sahabat meminta dido’akan oleh Nabi Muhammad saw semasa hidupnya. Tapi ketika sudah wafat maka tak ada syariat karena bertawasul kepada orang yang telah wafat bisa menjerumuskan kepada kemusyrikan. Wallahu A’lam

Mungkin itu sedikit ilmu yang bisa ane bagi, mohon maaf bukan opini pribadi melainkan mengutip dari kitab karya Syaikhul Islam. Jika ada yang kurang berkenan maka silakan pakai pendapat masing-masing, admin hanya hamba yang faqir dan berniat berbagi ilmu.

Sumber: Majmu’atul Fatawa, Jld. 1, Hlm. 133-134

Tinggalkan komentar