Sejarah Qurban Idul Adha Dalam Islam

Tak terasa kurang beberapa hari lagi kita akan bertemu bulan dzul hijjah, bulan umat Islam melaksanakan haji di Makkah Al-Mukarromah dan hari raya Idul Adha di seluruh penjuru dunia.

Sahabat mengaji Islam! keluarga atau tetangga yang sudah mau berangkat haji tahun ini langsung samperin jangan sampai ketinggalan untuk titip do’a. Karena do’a orang yang berhaji insyaallah mustajab (akan dikabulkan oleh Allah).

Yang masih jomblo titip do’a untuk segera dapat jodoh, yang mendapat musibah sakit titip do’a biar lekas sembuh, pokoknya titip do’a baik sebanyak-banyaknya mudah-mudahan terkabul semua.

Admin lagi tidak membahas haji kawan, yang ingin dibahas adalah hari raya Idul Adha atau biasa juga disebut hari raya qurban.

Hari raya ini jatuh pada tanggal 10 dzul hijjah, bila dilihat dari sisi historis hari raya qurban mempunyai cerita yang paling populer, yaitu kisah Nabi Ibrahim as yang hendak menyembelih putranya Nabi Isma’il as dan diganti oleh Allah dengan seekor kambing.

Kisah itulah sejarah qurban hari Idul Adha. Sekarang kaum mulimin mengenangnya dengan cara menyembelih hewan qurban dan dibagi-bagikan kepada orang-orang.

Baca juga artikel: Syarat sah hewan qurban

Sejarah Qurban Idul Adha

Kisah ini dimulai ketika Nabi Ibrahim as meninggalkan istri dan anaknya (Siti Hajar dan nabi Isma’il) di Kota Makkah yang dulu masih sunyi dan tandus.

Sebenarnya Nabi Ibrahim as juga sangat berat untuk meninggalkan anak dan istrinya di padang tandus itu, hanya berbekal kurma satu wadah dan juga air minum satu kantong. Tapi karena itu semua adalah perintah Allah maka Beliau as tetap melaksanakan perintah Allah yang mulia itu.

Nabi Ibrahim datang ke Makkah bersama istrinya (Hajar) pada masa menyusui Nabi Isma’il yang masih kecil dan di sana belum ada penghuni seorang pun serta tak ada sumber air. Setelah sampai beliau as membelakangi bunda Isma’il untuk meninggalkannya. Tiba-tiba Hajar mengikuti sang suami dan berkata:

“Kemanakah Anda hendak pergi dan mengapa Anda meninggalkan kita di lembah ini, tanpa ada seorangpun sebagai kawan dan tidak ada sesuatu apapun?”

Hajar mengulangi perkataan ini berulang-ulang tapi sang suami tidak menjawab atau menoleh ke arah istri. Kemudian ibunda Isma’il ini bertanya lagi:

“Apakah Allah yang memerintahkan anda untuk melakukan semuai ini?”

“Iya!” Jawab singkat Nabi Ibrahim as.

“Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan nasib kami.” Kata Hajar setelah mendengar jawaban Nabi Ibrahim as.

Berangkatlah sang suami meniggalkan istri, sesampai beliau as di Tsaniyah daerah Hajun tempat yang lumayan jauh dan tak terlihat oleh anak dan istrinya. Beliau as kemudian menghadap kiblat dengan wajahnya ke arah Baitullah, terus berdoa dengan do’a yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Rabb kami! sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim: 37)

Beberapa waktu berselang persediaan makan dan minum pun habis, anak yang masih menetek ke ibu pun kehausan karena ASI sudah tak keluar lagi. Isma’il as kecil bergulung-gulung di tanah sambil memukul-mukulkan dirinya ke tanah.

Melihat yang seperti itu ibunya tak tega, beranjaklah Hajar dari tempatnya melihat kesekeliling. Ia melihat bukit Shafa maka dinaikilah bukit itu barang kali bisa menemukan seseorang dari bukit itu, ternyata setelah naik nihil hasilnya. Ia arahkan lagi pandangan ke bukit sebelahnya (bukit Marwa) ia langsung berlari dan naik, ternyata hasilnya pun juga sama.

Dari inilah salah satu ritual haji disyariatkan (sya’i/lari kecil dari bukit shofa dan marwa 7 kali, meneladani istri Nabi Ibrahim as).

Setelah Hajar berkeliling shofa-marwa kali ke-7 tiba-tiba hajar mendengar suara. Ternyata ada malaikat yang sedang berada di dekat sumber air zam-zam yang kala itu belum muncul sumbernya. Dengan izin Allah sumber air zam-zam keluar dengan deras.

Tanpa menunggu lama, karena khawatir airnya habis Hajar segera membuat bendungan untuk sumber zam-zam sehingga menjadi seperti sumur kecil. Ibunda Isma’il akhirnya bisa minum dan memberi ASI kepada sang anak.

Kemudian ada malaikat berkata kepada Hajar: “Janganlah Anda takut akan binasa disini, sebab disini nanti akan didirikanlah sebuah Rumah Allah yaitu Ka’bah. Yang mendirikan ialah anak ini beserta ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang berbakti kepada Allah.”

Berlalunya waktu, maka ada sekelompok mengadakan perjalanan dan melewati Makkah dan mereka membeli air dari Siti Hajar. Ada kelompok lain juga tidak hanya membeli air mereka malah memilih tinggal di Makkah.

Akhirnya lambat laun Makkah yang sepi dan tandus menjadi tempat yang ramai penghuni seperti yang kita saksikan sekarang. Setiap tahun tak pernah berhenti peziarah untuk melaksanakan ritual ibadah haji atau umrah.

Kisah ini berlanjut ketika Nabi Isma’il sudah sampai umur baligh, sang Ayah Nabi Ibrahim as mendapat perintah dari Allah melalui mimpinya.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar.” QS. Ash-Shoffat: 102

Ayahanda Nabi Isma’il as bermimpi menyembelih anaknya, karena mimpi seorang rasul adalah wahyu maka Nabi Ibrahim as faham kalau itu adalah perintah. Maka beliau sampaikan kepada anaknya bahwa ada perintah dari Allah itu.

Isma’il as muda tidak marah dan menolak titah sang ayah. Nabi Isma’il malah merelakan dirinya jika memang itu adalah perintah dari Sang Maha Kuasa, karena ia sangat faham bahwa siapa yang patuh kepada Allah akan mendapat kemuliaan seperti yang diajarkan ibunya ketika ditinggal di tengah padang tandus.

Saat tiba hari penyembelihan Nabi Isma’il dibaringkan dan sang ayah mengambil pedang yang tajam supaya lebih cepat proses penyembelihan. Isma’il as memejamkan mata dan ayahnya mulai meletakkan sisi tajam pedang ke lehernya.

Walau dengan berat hati tapi nabi Ibrahim telah membuktikan kesetiaannya kepada Allah begitu juga anakanya sangat ta’at kepada Allah. melihat ayahnya yang tak tega sang anak tetap memberikan semangat kepadanya dengan mengatakan:

“Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telangkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku!”

Maka Allah menyeru kepada Nabi ibrahim as karena telah nyata kesabaran keduanya dalam melaksanakan perintah-Nya walaupun itu sangat berat:

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109)

Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” QS. Ash-Shoffat 104-109

Akhirnya Allah mengganti Nabi isma’il dengan hewan qurban (kambing) yang besar untuk disembelih. Allah abadikan awal sejarah qurban (Idul Adha) itu menjadi jadikan ritual ibadah qurban yang berlanjut hingga sekarang setiap hari raya Idul Adha seorang muslim yang berkemampuan di sunnahkan untuk berqurban.

untuk penjelasan tafsir kisah Nabi Ibrahim as menyembelih Nabi Isma’il as lebih jelas silakan kunjungi web: rumaysho.com

Hikmah

Dari Sejarah qurban (Idul Adha) ini bisa kita ambil pelajaran yang sangat berharga, sangat rugi bila kisah ini hanya menjadi pengatar sebelum tidur saja. Pelajaran mahal itu diantaranya:

  • Kesetiaan Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam melaksanakan perintah Allah walaupun itu sangat berat.
  • Istri yang shalihah adalah yang selalu yakin dan mendukung suaminya berada dalam jalan Allah.
  • Pilihlah pasangan yang shalih untuk kelancaran perjuangan dakwah.
  • Para wanita muslimah contohlah siti Hajjar yang shalihah lagi memberi pendidikan yang baik kepada Nabi Isma’l sehingga bisa kuat menghadapai ujian yang berat.
  • Siapa yang tetap bersabar dalam ketaatan kepada Allah, akan diangkat derajatnya di dunia hingga akhirat.

وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍۢ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًۭا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”. QS. Al-Baqarah: 124

  • Ritual haji, umrah dan berqurban adalah ajaran islam yang dicontohkan Nabi Ibrahim, siapa yang mengikutinya akan mendapat pahala.

إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ ٱلْبَيْتَ أَوِ ٱعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًۭا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” QS. Al-Baqarah: 158

Semoga informasi sejarah qurban Idul Adha ini menambah wawasan untuk kalian dan seluruh umat Islam. Untuk itu jangan lupa untuk share artikel ini ya.

Tinggalkan komentar