Krisis Identitas Pemuda Muslim Akhir Zaman

Beberapa tahun lalu admin pernah ikut kajian Krisis Identitas Pemuda Muslim Akhir Zaman, Ustadz pemateri menyampaikan bahwa manusia punya masa masing-masing yang akan berakhir dan digantikan oleh generasi berikutnya.

Seperti yang kita tahu perjalanan masa manusia dari awal diturunkan oleh Yang Kuasa di bumi hingga sekarang selalu berganti generasi demi generasi.

Ada yang menarik dari pembahasan itu, pemateri kajian menyampaikan juga bahwa setiap pergantian generasi selalu lebih buruk daripada sebelumnya sontak diri ini bertanya-tanya, benarkah seperti itu? Bukannya generasi berikutnya lebih maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi?

Apalagi generasi milenial sekarang yang didukung dengan teknologi versi 4.0, hanya dengan gadget dan internet plus secangkir kopi sudah dapat mengakses berbagai macam informasi.

Bahkan saya sempat ingin membantah statement itu. Allah saja nyatakan dalam Al-Qur’an QS. Ali Imran ayat 110 bahwa umat Nabi Muhammad saw adalah umat terbaik:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Umat Nabi Muhammad saw adalah yang terbaik daripada umat-umat terdahulu dan saya juga pernah dengar bahwa umat beliau saw ini akan dihisap (dihitung amalanya) lebih dahulu daripada umat nabi lain.

Setelah didengarkan lanjutan materi kajian ternyata beliau tidak sembarang dalam ceramah dan beliau mengutip salah satu ayat dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi saw yang berbunyi:

فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” HR. Bukhari

Tegas sekali bahwa setiap generasi pengganti memiliki sifat buruk yang suka meninggalkan shalat dan mengikuti syahwat. Padalah sifat meniggalkan shalat dan mengikuti syahwat adalah sifat orang kafir.

Sekarang coba kita tengok di sekitar kita! Apakah generasi milenial ini mayoritas menjadi penegak shalat atau malah jadi pelanggar dan menjadi yang terjaga dari hawa nafsu atau malah jadi budaknya?

Setiap adzan shalat wajid dikumandangkan bisa disaksikan banyak masjid yang hanya menjadi simbol saja. Padahal di masa Nabi Muhammad saw masjid menjadi pusat peradaban Umat Islam, selain menjadi tempat kajian, Rasullullah saw juga menyampaikan ilmu-ilmu lain serta mengadakan musyawarah untuk kemaslahatan umat manusia.

Setiap ada event konser atau hura-hura akan ramai dihadiri oleh kawula muda dan yang tua tak mau ketinggalan. Mereka rela mengeluarkan uang banyak dan berkorban tenaga hanya untuk hadir atau bertemu dengan idola mereka yang kebanyakan hanya mengajak pada kesenangan dunia.

Inilah yang dinamakan krisis identitas yang melanda pemuda Muslim atau umat Islam umumnya di sekita kita. Lebih suka dengan dunia dan melupakan akhirat, senang dengan maksiat daripada taat.

Coba kita bandingkan generasi ini dengan apa yang dialami oleh ayah-ayah atau kakek dan nenek kita di masanya. Kehidupan mereka bisa dibilang lebih kuno daripada masa kini. jangankan Internet mungkin jaringan telepon juga belum ada.

Tapi untuk pendidikan karakter mereka lebih unggul daripada kita. Lebih menghormati orang tua dan guru-guru mereka, lebih rajin beribadah dan berpenampilan sopan.

Bagaimana dengan anak-anak zaman now? Tak peduli dengan orang tua ataupun guru bahkan benrani melawan. Penampilan penuh gaya dan tak peduli sopan santu serta berani meniggalkan shalat hanya demi kepuasan nafsunya.

Baca juga tentang : Umat Pilihan Yang Allah Janjikan Akan Datang

Krisis identitas yang menjangkit para pemuda muslim sangat kentara sekali. Mereka yang mengaku seorang muslim tapi tak melekat sama sekali dalam hati, berani meniggalkan shalat dan bermaksiat dan terbudak oleh syahwat.

Mereka bersetatus murid sekolah tapi sering bolos hanya karena malas, tak peduli dengan materi pelajaran dan berani melawan guru. Mereka adalah anak-anak dari orang tua, tapi memperlakukan kedua orang tuannya seperti pembantu dan bahkan ada yang tega membunuhnya.

Kecanggihan teknologi buka menjadi ukuran baik atau buruknya suatu generasi, melainkan keimanan pada Allah dan ketaatan dalam ibadah adalah ukurannya.

Bukankah nanti akan muncul generasi rabbani yang akan membawa kejayaan Islam seperti di masa Nabi saw dan para sahabatnya?

Ini pertanyaan yang menarik untuk dipecahkan jawabanya, karena seakan bertentangan antara janji Allah yang akan menghadirkan generasi pemenang di tengah kerusakan umat dengan ayat yang menegaskan bahwa setiap generasi pengganti pasti lebih buruk daripada generasi sebelumnya.

Setiap generasi akan menjadi lebih buruk dari sebelumnya memang benar adanya dalam ayat ataupun dalam realita kehidupan. Tapi di tengah-tengah tumpukan sampah itu ada bunga indah yang mekar dan nantinya Allah pilih dia sebagai generasi pemenang seperti dijanjikan oleh-Nya. Ia SWT berfirman pada ayat ke 60 QS. Maryam lanjutan dari ayat 59:

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًۭا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًۭٔا

kecuali orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.

Di masa penuh dengan fitnah dunia tenyata masih ada sekelompok yang tetap istiqomah dalam iman dan ibadah serta bersabar dari maksiat. Semoga kita termasuk dari kelompok itu, dengan cara kita memantaskan diri untuk masuk di dalamnya yaitu menjaga iman-takwa kita pada Allah, istiqomah dalam ibadah dan bersabar dari maksiat.

2 pemikiran pada “Krisis Identitas Pemuda Muslim Akhir Zaman”

Tinggalkan komentar