Kunci Sukses Dunia Akhirat Yang Allah Ajarkan

Kita semua pasti ingin sukses, kalau bisa sebelum tua sudah merasakannya. Kita selalu punya cita-cita atau target sebagai patokan sukses, setiap orang pasti berbeda-beda cita atau target sukses yang pasti impian itu setinggi langit.

Seperti pesan Presiden RI pertama Ir. Soekarno “Gantungkan cita-citamu setinggi langit!”. Sebenarnya tidak ada masalah bila cita-cita itu setinggi langit asal siap menanggung resiko dari resulisnya (impian), jika jatuh sakit sekali rasanya dan harus tetap berkerja keran.

Banyak buku-buku motivasi dan juga motivator-motivator terkenal memberikan tips yang bermacam-macam untuk menggapai sukses. Semua akan sia-sia bila tidak ada kesadaran diri untuk mengusakannya. Karena tak sedikit orang jadi stress, frustasi atau bahkan bunuh diri sebab gagal menggapi impian.

Mereka hanya berharap sukses tapi tak siap menanggung resiko dari rintangan-rintangan yang harus lalui sebagai pijakan sukses yang diimpikan.

Sebenarnya Allah telah jelaskan kiat atau kunci sukses dunia dan akhirat dalam Al-Qur’an bahkan ayat-ayatnya sering dibaca sebagai do’a sebelum pulang anak-anak sekolah, akan tetapi banyak orang yang tak menyadari atau bahkan mereka tak mau menerapkannya dalam kehidupan.

14 abad yang lalu Allah telah jelaskan dalam QS. Al-Ashr kunci sukses dunia akhirat kepada manusia.

وَٱلْعَصْرِ. إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ. إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” QS. Al-Ashr: 1-3

Allah buka QS. Al-Ashr dengan sumpah “Demi masa” dalam ilmu Ulumul Qur’an setiap sumpah yang ada dalam kitab suci ini adalah sebagi penguat berita yang ada dalam surat itu dengan adanya penguat maka manusia akan memperhatikannya.

Kata-kata sumpah yang dipakai oleh Allah dalam Al-Qur’an pasti sesuatu yang urgent untuk diperhatikan oleh hamba-Nya.

Seperti halnya dalam pembukaan surat ini, Allah bersumpah dengan masa/waktu. Maka masa adalah perkara yang penting untuk diperhatikan, banyak yang sepakat bahwa masa yang dimiliki manusia tidak bisa dipandang sepele.

Pepatah barat mengatakan “Time is money (waktu adalah uang), siapa yang tak bisa memanfaatkan waktunya akan kehilangan pundi-pundi uang yang sebenarnya menjadi haknya. Imam Syafi’i mendapat nasehat dari seorang Sufi:

الوقت كالسيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل

“Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”

Bagaimana sobat…? Waktu adalah masalah serius, tidak bisa diremehkan. Jika ingin sukses maka harus siap mengorbankan waktunya untuk selalu berusaha tanpa kenal putus asa. Manfaatkan setiap detik waktu untuk kegiatan positif dan produktif penunjang kesuksesan kita.

Bukan malah bermalas-malas atau hanya menghabiskan masa itu dengan kegiatan yang tak produktif seperti bermain game tanpa hiraukan waktu dan kewajiban.

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat dari kesalahannya.” HR. Tirmidzi

Realita yang tampak sekarang persis seperti apa yang disampaikan oleh baginda Nabi Muhammad saw. Tidak tua atau muda mereka tak lagi memiliki hirah untuk agama Islam, adzan shalat wajib dikumandangkan hanya sebagai alaram masuk waktu shalat bukan sebagai panggilan Allah kepada hamba-Nya untuk beribadah dan bermunajat.

Masjid menjadi sepi sedangkan pasar-pasar ramai pengunjung, membawa uang 50 ribu untuk diinfaqkan ke masjid akan terasa sangat besar nilainya dibanding 50 ribu itu dibawa belanja ke Mall akan terasa kurang.

Manusia lebih memilih untuk kepuasan nafsu dibanding bersusah-susah mengejar ridha Allah. Padalah kenikmatan dunia hanya sementara sedangkan akhirat adalah tujuan akhir kita. Jadi kiat sukses pada ayat ke-2 adalah “lawan hawa nafsu dan segera larilah kepada Allah”.

Memang mayoritas manusia akan merugi tapi ada beberapa golongan yang mereka terhindar dari nasib nahas itu. Pada ayat ke-3 disebutkan “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”.

Iman kepada Allah adalah kunci sukses dunia dan akhirat

Iman kepada Allah itu bersifat universal, yakin dengan kuasa dan takdir-Nya sehingga dengan sifat ini akan menumbukan power yang positif kepada manusia. Karena orang beriman selalu yakin bahwa Allah tak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya.

Baca artikel : Ciri-Ciri Pewaris Surga Firdaus Dalam Al-Qur’an

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” QS. Al-Baqarah: 286

Seorang mun’min juga selalu yakin bahwa Allah akan selalu sediakan kemudahan 2 kali lipat dari ujian yang dijalani dengan penuh kesabaran.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” QS. Al-Insyirah: 5-6

Jangan pernah tinggalkan Allah sebagai penguat langkahmu dalam menuju sukses! Dengan mengingat dan menyertakan-Nya dalam setiap langkah maka kemudahan akan selalu menyertai hingga impian itu tercapai, insyaalllah!

Selain beriman kepada Allah maka perlu adanya wujud usaha yang dikerjakan sebagai bentuk ikhtiar. lanjuta dari kata iman adalah beramal shalih “orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh”.

Yakin saja tidak cukup maka perlu ada usaha yang baik dan nyata untuk menggapai impian. Jadi setelah yakin maka harus berusaha dengan amalan-amalan yang sesusai jalur syariat dan tak boleh bercampur dengan kecurangan atau maksiat. Allah sudah janjika kepada manusia siapa yang mau bersungguh-sungguh akan diberikan petunjukknya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al-‘Ankabut: 69

Allah sangat faham sekali dengan hamba-Nya, mereka tak akan kuat bila berjuang seorang diri. Maka Ia perintahkan manusia untuk mencari teman untuk saling menguatkan dalam perjuangan.

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”.

Calon orang sukses adalah orang yang selalu mengenali potensi diri dan meningkatkannya serta dia tak akan sembarangan dalam meilih teman. Mencari teman yang baik dan memiliki visi misi yang sama adalah salah satu penentu sukses seseorang.

Karena teman akan memberikan efek yang dapat merubah seorang jadi baik ataupun buruk. Allah juga peringatkan orang mu’min untuk mencari teman yang shalih.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” QS. At Taubah: 119

Dalam hadits Nabi saw juga menjelaskan efek dari teman pergaulan.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” HR. Bukhari & Muslim

Dikuatak dengan riwayat lain

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.” HR. Bukhari

Pandai-pandailah dalam memilih teman, banyak teman memang bagus tapi alahkah baiknya kita memilih teman yang dapat memberikan dukungan untuk berjuang dalam kebaikan dan tak mengajak kepada kemaksiatan.

itu lah kunci sukses dunia akhirat yang Allah ajarkan kepada kita: Manfaatkan waktu sebaik mungkin, lawan hawa nafsu, yakin lah kepada Allah, berusahalah semaksimal mungkin dan jangan pernah purus asa dan carilah teman-teman terbaik untuk menguatkan perjuanganmu.

Insyaallah sukses dunia akhirat akan engkau gapai seperti yang telah Allah janjikan dalam kitab suci-Nya.

2 pemikiran pada “Kunci Sukses Dunia Akhirat Yang Allah Ajarkan”

Tinggalkan komentar