Keutamaan Ibadah Sunnah Yang Harus Anda Tahu

Dalam agama Islam mewajibkan para pemeluknya untuk istiqomah beribadah dalam keadaan apapun sampai akhir hayatnya. Hari-hari selalu diisi dengan shalat, mengaji berdzikir dan amal soleh lain yang tanpa ada hari libur.

Ditengah-tengah jadwal kerja atau sekolah yang sibuk pada jumat siang, mereka harus berhenti untuk melaksanakan ibadah shalat jum’at. Belum lagi nanti ketika bulan ramadhan tiba, seluruh umat Islam yang baligh wajib ikut puasa selama 1 bulan penuh. Bila tidak sempurna, maka harus mengganti puasa di hari lain.

Itulah ibadah-ibadah wajib yang Allah syariatkan dalam agama Islam, begitu banyak dan seakan melelahkan.

Di samping ibadah wajib yang kita kerjakan masih ada ibadah-ibadah lain yang juga seharusnya dilaksanakan. Yaitu ibadah-ibadah sunah yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

Loh bukannya ibadah wajib sudah cukup banyak dan melelahan, dan ada riwayat hadits yang menjelaskan dengan melaksanakan shalat 5 waktu setiap hari dan puasa di bulan suci ramadhan serta menjalankan apa yang dihalalkan oleh Allah dan meninggalkan yang diharamkan-Nya sudah cukup untuk masuk surga?

Kenapa masih harus susah-susah menambah yang sunnah apakah ada keutamaan tambahan dari ibadah sunnah itu?

Sebelum lanjut ke penjelasan kenapa kita harus menambah ibadah sunnah, kita tengok dulu tujuan Allah menciptakan manusia di bumi. Inilah yang nanti akan menjadi landasan kita untuk berfikir lebih sehat, tidak menjadi orang dungu yang hanya mengedepankan nafsu dan syahwat. Allah firmankan dalam Al-Qur’an dan sering kita dengar.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. QS. Adz-Dzariat: 56

Di ayat lain Allah jelaskan bahwa menyembah Allah itu tidak kenal waktu tua, beribadah kepada sang Pencipta itu hingga ajal sebagai batasnya.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” QS. Al Hijr: 99

2 ayat ini adalah dasar yang harus kita pakai agar tetap semangat beribadah semasa hidup. Kata menyembah (ibadah) tidak dikhususkan yang wajib saja, tapi termasuk juga yang sunnah harus dilaksanakan.

Sebab dalam memahami ayat ini perlu kita membaca sejarah bagaimana Nabi Muhammad saw dan para sahabat ketika mereka beribadah kepada Allah. Dalam urusan wajib ataupun sunnah para sahabat sangat haus akan pahala, rela meninggalkan dunianya demi kesempurnaan ibadah.

Tidak yang tua, remaja atau yang anak-anak semuanya semangat untuk mencari ridha Allah dalam kesempatan ibadah mereka. Sehingga Allah muliakan mereka dan menjaminnya dengan surga.

Memang benar dalam hadits Nabi saw disebutkan bahwa dengan shalat 5 waktu tiap hari dan puasa ramadhan serta melakukan yang halal dan meninggalkan yang haram sudah cukup untuk masuk surga. Berikut ini haditsnya:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ .

Dari Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiyallahu ‘anhuma, bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah dengan berkata, “Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, lalu saya tidak menambah lagi sedikit pun, apakah saya akan masuk surga?” Beliau menjawab, Ya.” HR. Muslim

Ulama berpendapat walaupun seorang tidak menambah amal ibadah sunah dan amalan wajibnya sempurna dia sudah berhak untuk surga, tetapi tetap tidak boleh meremehkan ibadah-ibadah sunah itu. Karena ada keutamaan yang besar dari ibadah sunnah yang kita amalkan.

Dikarenakan siapa yang meremehkan sunnah termasuk orang yang benci dengan Nabi Mahmmad saw dan siapa yang benci dengan beliau maka bukan termasuk dari umatnya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يقول: فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukan dariku.” HR. Muslim

Yakinkah anda dengan segala amal yang telah dilakukan sudah sempurna dan diterima oleh Allah? Yakinkah anda sudah mendapat jaminan surga dari Yang Maha Kuasa?

Di dunia ini tidak ada yang bisa menjamin semua itu. Sebab diterimanya amal serta penentuan masuk surga dan neraka adalah hak Allah, manusia hanya berusaha untuk menggapainya. Manusia tak ada hak untuk merasa suci tanpa dosa atau sudah merasa dapat jaminan surga.

فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.” QS. An-Najm: 32

Justru manusia yang baik adalah yang selalu takut dengan dosa dan adzab Allah, dengan rasa takut itu dia menjauhkan diri dari kemaksiatan dan Allah tuntun pada jalan yang diridhoi-Nya

Allah jelaskan sifat-sifat orang yang beruntung dalam 11 ayat surat Al-Mu’minun dan juga pada ayat-ayat yang lain, salah satunya adalah selalu meninggalkan perkara sia-sia dan memanfaatkan waktunya untuk memperbanyak amala sholih.

Dengan demikian maka seorang muslim sejati tidak akan pernah merasa puas dengan amal-amal wajib saja, dia akan senatiasa rakus untuk menyempurnakan dengan amalan sunnah. Karena mereka tahu begitu besarnya keutamaan ibadah sunnah. Waktu mereka tidak akan sia-sia pahala semakin melimpah dan ridha Allah semakin dekat.

Mereka tahu dan sadar bahwa manusia adalah makhluk yang tak bisa luput dari salah dan lupa, salalu was-was akan siksa Allah yang datang tiba-tiba, maka berusaha ingat Allah bagaimanapun keadaannya.

Sahabat mengaji islam! Bila kita meluangkan waktu untuk menambah ibadah sunnah maka banyak keutamaan-keutamaan yang akan didapatkan. Amalan-amalan yang masih belum sempurna bisa disempurnakan dengan ibadah sunah.

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” QS. Hud: 114

Diriwayatkan dalam hadits Nabi saw yang masyhur juga:

اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, ikutilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik niscaya ia akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan budi pekerti yang mulia. HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dll. dengan derajat hasan.

Dalam riwayat yang juga disebutkan:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“Sesungguhnya perkara pertama kali yang dihisab pada hari kiamat dari amal seorang hamba adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat. Jika shalatnya buruk, maka sungguh dia celaka dan rugi. Jika terdapat suatu kekurangan pada shalat wajibnya, Allah Ta’ala berfirman, “Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki ibadah sunnah yang bisa menyempurnakan ibadah wajibnya yang kurang?” Lalu setiap amal akan diperlakukan sama seperti itu.” HR. Tirmidzi no. 413, An-Nasa’i no. 466, shahih

Ulama sepakat bahwa ibadah wajib yang belum sempurna dapat dilengkapi dengan ibadah-ibadah lain termasuk ibadah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Seperti shalat wajib 5 waktu masih ada yang belum pas, mungkin karena kurang khusyu’ atau yang lain, maka bisa ditembel lubang kekurangan itu dengan shalat-shalat sunnah rawatib.

Selain sebagai penyempurna ibadah wajib, amalan sunnah juga akan menjadikan kita semakin dekat dengan Allah. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, maka aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan amal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar; menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat; menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang; dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi. “ HR. Bukhari no. 6502

Yuk kita tambal kekurangan-kekurangan amal kita dengan sunnah-sunnah Rasulullah saw. Insyaallah keutamaan ibadah sunnah yang dijanjikan oleh Allah akan kita dapat.

Tinggalkan komentar