Jangan Jadikan Anakmu Mental Pengemis

Alhamdulillah sekarang sudah masuk tanggal 21 Ramadhan menandakan tinggal 9 hari lagi kta akan berpisah dengan bulan suci dan menyambut lebaran syawal 1441 hijriyah. Mungkin yang kita rasakan saat ini agak berbeda dengan lebaran tahun-tahun sebelumnya.

Ya seperti yang sama kita tahu, pandemi korona yang menghalangi acara rutin lebaran keluarga. Halal bi halal dan mudik jadi terhambat, mungkin tradisi nyari THR dari sodara juga terhambat ini.

Mumpung kondisi sepeti ini kita gunakan untuk mendidik anak atau adek kita untuk berjiwa dermawan suka membantu dan berbai. Bukan tetap saja bermental pengemis yang mengharap belas kasihan orang lain. Yang lalu biarlah berlalu sekarang kita rumah demi masa depan mereka yang lebih maju.

Tradisi ini mungkin belum hilang atau memang sudah menjadi menu wajib di musim lebaran. Setiap menjelang tanggal 1 syawal bank-bank dan juga di pinggir-pinggir jalan, banyak yang membuka jasa penukaran uang. Berarti dengan demikian trasidi angpau lebaran masih melekat di negeri tercinta ini.

“Haduh ….. saya sudah nyiapin belum ya?”

“Adik saya berapa yang ? Ponakan saya dikasih berapa ya?”

“Asyik anak saya ada banyak, nanti pas lebaran panen rejeki dari angpau kerabat dan tetangga!”

“Nak besok kalau ada om sama tante, langsung samperi salimin biar dapat amplot lebaran okay!”

Itu mungki ungkapan sebagian orang tua yang masih mengharap hasil uang salam tempel lebaran. Tahu kah anda kalau kebiasaan itu termasuk didikan yang tak baik untuk anak dan termasuk perbuatan yang dibenci oleh agama Islam

Ingan jangan jadikan anakmu mental pengemis dengan cara meminta-minta uang angpau lebaran!

Kita melestarikan tradisi boleh-boleh saja, tapi hanya tradisi yang tak melanggar syariat Islam. Sebagai orang yang beriman kepada Allah harus pandai-pandai memilih dan membatasi setiap perbuatannya.

Dalam ilmu psikologi, mengajari anak atau adek untuk meminta salam tempel kepada orang lain akan memberi dampak buruk. Membentuk karakter anak menjadi seorang peminta-minta. Seharusnya seorang ayah dan kakak mengajari anak dan adiknya untuk menjadi seorang yang suka memberi dan membantu yang lain. bukankah dalam hadits disebutkan

“Tangan di atas (memberi / membantu) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta)”

Ajarilah anak untuk memiliki mental owner atau boss bukan mental pengemis. Jika mental peminta ini terbawa hingga ia dewasa maka akan merusak masa depan. Dia akan mudah berpangku tangan dan putus asa. Karena Hanya mengandalkan pertolongan orang lain.

Rasulullah saw pun juga tak suka meminta, beliau saw adalah orang yang paling dermawan. Kedermawanan nabi saw  inilah yang harus kita contoh karena kita adalah pengikutnya. Disebutkan dalam hadits, nanti ketika hari kebangkita orang-orang yang suka meminta-minta akan dibangkitak dalam kondisi mencakar-cakar wajahnya hingga tinggal tengkoraknya.

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْم

“Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040)

Di riwayat lain juga disebutkan jika orang suka meminta sedangkan dia bukan dari kalangan fakir (orang yang tidak mampu) maka dia seperti orang yang minum khamer (bir).

مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ

“Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain)

Jadi jangan jadikan anakmu mental pengemis tapi ajari dia berbagi dan menolong sesama

Semiga Bermanfaat ! Jika ini bermanfaat untuk kalian, silakan share ke teman-teman kalian.

Terimakasih !!!!!

Satu pemikiran pada “Jangan Jadikan Anakmu Mental Pengemis”

Tinggalkan komentar